Kisah di Balik Pakaian Adat Sewaan di Penglipuran Bangli: Dari Sekadar Foto Prewedding hingga Jadi Ladang Rezeki Warga

Penulis: Agus Hermawan  •  Rabu, 20 Mei 2026 | 13:44:28 WIB
Wisatawan berpose dengan busana adat Bali di Desa Penglipuran, Bangli.

BANGLI — Pemandangan rombongan wisatawan yang tampil anggun mengenakan kain songket, udeng, hingga riasan khas Bali kini bukan lagi hal asing di area parkir hingga sudut-sudut Desa Penglipuran. Mereka berpose bak pengantin adat di depan gapura, pura keluarga, atau halaman rumah warga. Di balik setiap jepretan kamera ponsel itu, ada cerita tentang perubahan pola usaha warga yang mulai serius menggarap jasa persewaan busana adat.

Foto Prewedding Jadi Pemicu Awal

Usaha ini berawal dari permintaan kecil. Beberapa tahun lalu, sejumlah wisatawan yang datang untuk foto prewedding membutuhkan pakaian adat yang rapi dan rias yang sempurna. Warga yang awalnya hanya meminjamkan kain dan kebaya milik pribadi, perlahan mulai membeli stok khusus untuk disewakan.

“Awalnya cuma bantu pinjami selendang buat tamu yang mau foto. Sekarang kami punya puluhan stel, dari yang sederhana sampai yang payas agung,” ujar seorang pengelola jasa sewa di Penglipuran yang enggan disebutkan namanya. Permintaan kini tidak hanya datang dari pasangan prewedding, tapi juga rombongan keluarga dan grup wisata yang ingin merasakan pengalaman berpakaian adat.

Dari Sampingan Jadi Penghasilan Utama

Tak sedikit warga yang tadinya bekerja sebagai petani atau buruh bangunan kini beralih total ke jasa persewaan dan tata rias. Seorang ibu rumah tangga di banjar setempat mengaku bisa mengantongi omzet hingga Rp 3 juta per bulan hanya dari menyewakan kebaya dan kain songket, belum termasuk jasa rias yang ia kerjakan sendiri.

“Kalau musim liburan, sehari bisa melayani 5 sampai 7 rombongan. Saya sampai kewalahan karena harus merias sekaligus menyiapkan baju,” katanya. Untuk mengatasi lonjakan permintaan, warga mulai membentuk kelompok kecil yang saling berbagi stok dan jadwal rias.

Dampak ke Ekonomi Desa dan Budaya

Kehadiran jasa sewa pakaian adat ini juga berdampak pada perajin lokal. Permintaan kain songket dan udeng buatan perajin Bangli meningkat drastis. Beberapa penjahit di desa-desa sekitar juga kebanjiran order untuk memperbaiki atau memodifikasi kebaya dan kamen agar sesuai dengan selera wisatawan.

Di sisi lain, fenomena ini juga memicu diskusi di kalangan tetua adat. Sebagian mengkhawatirkan makna sakral busana adat luntur karena kerap dipakai hanya untuk berswafoto. Namun, sebagian lain menilai hal ini justru menjadi cara efektif untuk memperkenalkan tata busana tradisional Bali kepada generasi muda dan wisatawan mancanegara.

Berapa Tarif Sewa Pakaian Adat di Penglipuran?

Tarif sewa bervariasi tergantung kelengkapan. Untuk satu stel pakaian adat lengkap dengan riasan dan aksesoris, wisatawan dikenakan biaya mulai Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu per orang. Harga tersebut sudah termasuk jasa rias dan pendampingan saat berfoto. Jika hanya menyewa kain dan kebaya tanpa rias, tarifnya lebih murah, sekitar Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu.

Dengan harga yang relatif terjangkau, tren ini diprediksi terus bertahan. Apalagi, Desa Penglipuran yang dikenal dengan tata ruang tradisional dan kebersihannya, masih menjadi primadona destinasi wisata di Bali. Warga pun berharap usaha ini bisa menjadi warisan ekonomi yang berkelanjutan, bukan sekadar musim liburan.

Reporter: Agus Hermawan
Sumber: radarbali.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top