BALI — Rasa takut terhadap matematika di kalangan pelajar menjadi perhatian serius Halpa Edukasi. Lembaga ini memperkenalkan pendekatan belajar yang tidak lagi terpaku pada buku teks dan hafalan rumus, melainkan menyelipkan konsep numerik ke dalam aktivitas budaya lokal Bali yang akrab di mata anak-anak.
Metode ini berangkat dari pengamatan bahwa anak-anak sebenarnya sudah berinteraksi dengan prinsip matematika dalam keseharian mereka. Mulai dari menghitung jumlah banten dalam sesajen, memahami pola anyaman bambu, hingga membagi hasil panen di subak.
Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah stigma bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan. Halpa Edukasi meyakini, ketika konsep angka dan logika dikaitkan dengan budaya yang sudah dikenal, anak-anak akan lebih mudah menerima dan memahaminya.
“Kami berharap anak-anak tidak lagi takut pada matematika, karena sebenarnya mereka sudah berinteraksi dengan konsep matematika dalam aktivitas budaya yang mereka lihat setiap hari,” demikian pernyataan dari pihak Halpa Edukasi.
Dalam praktiknya, metode ini tidak mengubah kurikulum, melainkan mengubah cara penyampaian. Guru atau fasilitator diajak untuk menggunakan contoh-contoh lokal sebagai ilustrasi. Misalnya, konsep pecahan bisa diajarkan melalui pembagian canang atau sistem irigasi subak yang menggunakan perhitungan air secara terstruktur.
Halpa Edukasi menilai, potensi budaya Bali sebagai media pembelajaran matematika sangat besar. Sayangnya, selama ini pendekatan kontekstual semacam ini jarang digunakan di ruang kelas formal.
Inisiatif ini menyasar anak-anak usia sekolah dasar, di mana fondasi pemahaman matematika mulai dibangun. Dengan metode yang lebih dekat dengan kehidupan mereka, diharapkan minat belajar meningkat dan prestasi numerik pun ikut terdongkrak.
Ke depan, Halpa Edukasi berencana memperluas jangkauan program ke lebih banyak desa adat di Bali. Materi ajar yang sudah disusun akan dibagikan kepada guru-guru di sanggar dan komunitas belajar non-formal.