DENPASAR — Program pemeriksaan dan pengukuran kaki palsu gratis yang digelar Narayan Seva Sansthan bersama PUSPADI Bali menyasar warga penyandang disabilitas di Denpasar dan sekitarnya. Kegiatan berlangsung di Annika Linden Centre, Denpasar Timur, selama dua hari, dengan pengukuran dilakukan langsung oleh tim teknis untuk memastikan ukuran kaki palsu sesuai kebutuhan tiap penerima.
Nyoman, warga asal Renon, Denpasar, menjadi salah satu peserta yang mengikuti pengukuran. Ia mengaku bantuan itu memberi harapan baru untuk bisa beraktivitas lebih leluasa, terutama saat menjalani rutinitas harian di rumah dan lingkungan sekitar.
Kaki Palsu Bukan Sekadar Alat Bantu
Bagi sebagian penyandang disabilitas, kaki palsu kerap dianggap hanya alat bantu tambahan. Namun bagi Nyoman, alat itu menjadi kunci untuk meraih kembali kemandirian yang sempat hilang.
Ia mengungkapkan rasa syukurnya bisa ikut dalam kegiatan sosial tersebut. Menurut Nyoman, bantuan seperti ini sangat berarti bagi dirinya dan penerima manfaat lain yang membutuhkan.
"Saya sangat bersyukur bisa mengikuti program ini. Bantuan seperti ini sangat berarti bagi kami. Harapannya, dengan adanya kaki palsu yang sesuai kebutuhan, saya bisa lebih mudah beraktivitas dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih mandiri," ujar Nyoman.
Kenapa Pengukuran Harus Presisi
Pengukuran kaki palsu tidak bisa dilakukan sembarangan. Ukuran yang pas menentukan kenyamanan saat dipakai, sekaligus mengurangi risiko lecet atau nyeri pada bagian tubuh yang menopang beban.
Dalam kegiatan di Annika Linden Centre, tim dari Narayan Seva Sansthan dan PUSPADI Bali melakukan pemeriksaan awal sebelum masuk tahap pengukuran. Proses ini memastikan setiap penerima manfaat mendapat kaki palsu yang sesuai kondisi fisiknya, bukan ukuran seragam.
Kaki palsu yang nyaman diharapkan membantu penerima bergerak bebas tanpa harus bergantung pada bantuan orang lain. Bagi sebagian peserta, itu artinya bisa kembali beraktivitas di luar rumah, bekerja, atau sekadar berjalan ke warung tanpa perlu ditopang.
Dua Hari, Satu Harapan Baru
Kegiatan berlangsung selama dua hari dan melibatkan sejumlah penerima manfaat dari kawasan Denpasar. Kehadiran program ini memberi dorongan moral yang besar, bukan hanya soal alat bantunya, tetapi juga soal pengakuan bahwa kebutuhan mereka diperhatikan.
Nyoman berharap kaki palsu yang nanti diterimanya bisa membuat hidupnya lebih mudah. Ia ingin kembali mandiri, menjalani hari-hari tanpa terus bergantung pada bantuan orang di sekitarnya.
Program pemeriksaan dan pengukuran kaki palsu gratis ini menjadi salah satu bentuk dukungan nyata bagi penyandang disabilitas di Bali. Setelah tahap pengukuran, proses pembuatan dan penyerahan kaki palsu akan menjadi langkah berikutnya yang ditunggu para penerima manfaat.