Pencarian

Project Hiu di Lombok Timur Ubah Nelayan Hiu Jadi Pemandu Wisata

Selasa, 22 September 2026 • 16:17:01 WIB
Project Hiu di Lombok Timur Ubah Nelayan Hiu Jadi Pemandu Wisata
Nelayan Tanjung Luar dan Gili Maringkik beralih menjadi pemandu snorkeling dan pelayaran wisata di bawah Project Hiu.

BALI — Project Hiu di Tanjung Luar dan Gili Maringkik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menyulap nelayan penangkap hiu menjadi pemandu snorkeling dan pelayaran wisata. Organisasi nirlaba yang didirikan Madison Stewart pada 2018 ini kini menaungi sekitar 80 nelayan dengan 15 kapal. Selain memandu wisata, mereka dilibatkan dalam riset dan penandaan hiu di perairan Indonesia.

Madison Stewart, pembuat film dokumenter asal Australia, awalnya datang ke Indonesia untuk merekam industri perburuan hiu. Indonesia tercatat sebagai negara penangkap hiu terbesar di dunia dengan kontribusi lebih dari 12 persen pasokan global. Dari situ ia bertemu langsung dengan para nelayan hiu dari Tanjung Luar dan Gili Maringkik, Lombok Timur.

Para nelayan itu menghabiskan berminggu-minggu di laut demi menangkap ikan, termasuk spesies terancam punah. Praktik tersebut sebenarnya diatur ketat di Indonesia. Namun keterbatasan pilihan pendapatan membuat sebagian nelayan melanggar aturan, termasuk menangkap hiu paus yang dilindungi.

Dari Penangkap Hiu Menjadi Pemandu Wisata

Project Hiu hadir memberi alternatif penghasilan. Organisasi nirlaba yang mengambil nama dari kata "shark" dalam bahasa Indonesia ini menyewa nelayan beserta kapalnya untuk menggarap aktivitas wisata.

Wisatawan diajak snorkeling bersama hiu karang blacktip di hutan karang, serta berlayar sehari penuh mengelilingi perairan Lombok Timur. Kini sekitar 80 nelayan mengoperasikan 15 kapal di bawah naungan Project Hiu.

Mereka juga terlibat dalam penandaan dan riset hiu, spesies yang dulu mereka buru. Upaya itu menghasilkan pencapaian dunia: penandaan 10 hiu macan di perairan Indonesia untuk pertama kalinya.

"Saya berharap karya ini menginspirasi orang lain untuk melihat melampaui sekadar melarang orang menangkap ikan, dan mulai menjawab mengapa mereka menangkap ikan sejak awal," ujar Stewart, pendiri Project Hiu.

Contoh Serupa di Raja Ampat dan Filipina

Pendekatan serupa berjalan di sejumlah kawasan lain. Di Raja Ampat, Misool Resort berdiri di atas bekas kamp perburuan sirip hiu. Pantai yang dulu dipakai pemburu membunuh tangkapan kini menjadi teras tempat para penyelam menyeruput kopi pagi.

Misool Foundation mengelola patroli ranger yang sebagian besar diisi warga lokal, termasuk mantan pelaku pengeboman ikan. Hasilnya, populasi hiu di dalam kawasan konservasi tersebut berlipat dua sejak 2012.

Di Filipina, Ruben Gianan dulunya seorang penebang kayu di Provinsi Rizal. Kini ia menjadi ranger senior di Masungi Georeserve sekaligus navigator ulung ekosistem batu kapur di sana. Pengetahuan medan yang ia kuasai dari masa menebang justru menjadi modal menjaga kawasan.

Pelajaran dari Tanzania dan Kamboja

Di Tanzania, pemandu lokal Anderson Mgesi tumbuh di desa wilayah Iringa dengan daging satwa liar sebagai sumber pangan keluarga. Pemerintah memperluas taman nasional pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, dan ratusan warga, termasuk keluarga Mgesi, digusur dari tanah leluhur mereka.

Perburuan satwa di kawasan yang kemudian menjadi Ruaha National Park itu ilegal. Namun bagi Mgesi, praktik tersebut "salah satu dari sedikit cara yang bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan". Titik balik terjadi saat kakeknya diterkam macan tutul yang terperangkap jerat impala.

Mgesi lalu mencari sponsor untuk belajar di Mkuyu Wildlife School. Jalur itu membawanya menjadi pemandu di Usangu Expedition Camp, bagian dari perusahaan safari Asilia Africa. Kini ia menopang sebagian besar keluarga besarnya dari upah tetap sebagai pemandu.

"Masa depan konservasi terletak pada komunitas sekitar yang mendapat manfaat langsung dari pariwisata, dan pada edukasi anak-anak sejak dini soal peluang karier di bidang perhotelan," kata Mgesi.

Di Pegunungan Cardamom, Kamboja, Shinta Mani Wild bekerja sama dengan Wildlife Alliance melatih dan mempekerjakan mantan pemasang jerat. Mereka kini bertugas mencegat pembalakan liar dan perburuan beruang matahari, trenggiling, macan dahan, serta gibon di koridor satwa yang kritis. Wildlife Alliance mencatat sekitar 350.000 jerat telah diangkat dari kawasan itu.

Jacky Collett-Stevens, general manager baru Shinta Mani Wild, baru pindah dari Rwanda. Di sana ia menangani sejumlah proyek pelibatan komunitas dalam konservasi satwa. "Di Rwanda, orang melihat bahwa melindungi gorila gunung mereka membawa nilai nyata dan bertahan lama bagi keluarga dan negara," ujarnya.

Dampak bagi Wisatawan dan Warga Lokal

Project Hiu masuk dalam daftar Bright Ideas in Travel 2026 versi Condé Nast Traveler. Bagi wisatawan yang ingin melihat langsung, aktivitas berpusat di perairan Lombok Timur dengan titik kumpul di Tanjung Luar dan Gili Maringkik.

Informasi terkini soal jadwal pelayaran, paket snorkeling, dan tarif dapat dikonfirmasi langsung melalui kanal resmi Project Hiu atau dinas pariwisata Lombok Timur. Sebagian besar paket melibatkan nelayan setempat sebagai kapten dan pemandu.

Kunjungan ke kawasan ini cocok dipadukan dengan wisata bahari Lombok lainnya. Durasi ideal dua hingga tiga hari untuk menuntaskan pelayaran harian, snorkeling, dan sesi edukasi konservasi bersama kru.

Follow denpasar24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cntraveler.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks