DENPASAR — Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan memiliki lintasan spiritual yang panjang. Salah satu titik transisi penting adalah Hari Ulihan, yang secara etimologi berarti “pulang” atau “kembali”. Dalam kalender Bali, hari ini jatuh pada Redite Wage Kuningan (Minggu Wage wuku Kuningan), tepat enam hari sebelum puncak Kuningan.
Secara teologis, Ulihan menjadi ruang bagi umat untuk mengucapkan rasa syukur karena seluruh rangkaian perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma telah berjalan lancar. Umat menghaturkan sesaji khusus di sanggah atau merajan, berupa canang raka, soda, serta perlambang “bekal” perjalanan spiritual bagi leluhur.
Bekal Spiritual dari Hasil Bumi Lokal
Bekal tersebut diwujudkan melalui hasil bumi dan pangan tradisional Bali. Beberapa di antaranya adalah sayur-sayuran segar, buah-buahan, urutan (sosis tradisional Bali), dan beras murni. Semua sarana ini ditempatkan di rong sanggah sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang kepada leluhur yang akan kembali ke singgasana suci.
Mengapa Klungkung Tidak Rayakan Ulihan?
Meskipun esensi spiritualnya sama, perayaan Hari Ulihan tidak dilakukan secara seragam di seluruh Bali. Di Kabupaten Klungkung, sebagian besar krama justru tidak melaksanakan ritual khusus penghantaran leluhur pada Minggu Ulihan. Secara turun-temurun, masyarakat Klungkung menghantarkan atau ngulihang leluhur bertepatan dengan puncak Hari Raya Kuningan, yang dikenal dengan tradisi Ngelebar.
Tradisi Unik di Tabanan: Banten Entil Sanda
Sebaliknya, di Desa Adat Sanda, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, terdapat tradisi yang sangat khas bernama Banten Entil Sanda. Berbeda dengan daerah lain, krama di wilayah ini menggunakan kuliner lokal “entil”—makanan sejenis ketupat yang dibungkus daun khusus—sebagai sarana utama upakara pada hari Ulihan. Tradisi ini menjadi penanda identitas budaya yang tetap lestari hingga kini.
Sementara itu, di kawasan Tamblingan, Buleleng, khususnya di wilayah catur desa adat sekitar Danau Tamblingan, hari Ulihan tetap memegang peranan penting dalam tradisi domestik keluarga. Prosesi penghantaran leluhur dilakukan secara khidmat sebagai penutup rangkaian Galungan di lingkungan rumah tangga.
Desa Kala Patra: Keindahan dalam Keragaman
Keragaman cara ini menunjukkan betapa kayanya tradisi Hindu-Bali. Perbedaan tata cara yang dikenal dengan konsep desa kala patra justru mempertegas keindahan toleransi dan pelestarian budaya purba. Meskipun waktu dan sarana upakara berbeda, esensi mengantar pulang leluhur tetap sama: ungkapan syukur dan penghormatan tertinggi umat kepada Dewata dan Pitara.