Startup TERANGIN asal Indonesia berhasil menempati posisi Top 4 dalam ajang Fowler Global Social Innovation Challenge 2026 di San Diego, Amerika Serikat. Inovasi alat pengendali hama berbasis energi terbarukan ini sukses menyisihkan puluhan peserta dari 10 negara dan membawa pulang pendanaan ribuan dolar.
AMERIKA SERIKAT — Startup TERANGIN dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mencatatkan prestasi internasional dalam ajang Fowler Global Social Innovation Challenge (FGSIC) 2026. Kompetisi yang berlangsung di University of San Diego pada 1-2 Mei 2026 tersebut mempertemukan inovator muda dari berbagai belahan dunia.
Sebagai jebolan program Pertamuda Seed & Scale 2025, TERANGIN terpilih masuk dalam jajaran Top 4 setelah bersaing ketat dengan 43 semifinalis. Para peserta tersebut berasal dari 34 universitas yang tersebar di 10 negara berbeda.
Inovasi Pengendali Hama Berbasis Energi Terbarukan
Solusi yang ditawarkan TERANGIN berfokus pada sektor pertanian melalui alat perangkap hama tanaman yang inovatif. Perangkat ini mengandalkan kincir angin dan panel surya sebagai sumber energi utama untuk menggerakkan sistem lampu perangkap.
Muhammad Hanif, founder TERANGIN, mengungkapkan bahwa pengalaman di San Diego memberikan perspektif baru bagi pengembangan bisnisnya. Ia merasa level kompetisi di tingkat global memaksa timnya untuk meningkatkan kapasitas berkali-kali lipat.
“Kompetisi Fowler Global Social Innovation Challenge mengajarkan kami banyak hal dengan tujuan mulia di tingkat global. Kami bertemu calon klien internasional dan merasakan pertarungan dengan peserta dari berbagai negara,” ujar Hanif.
Sisihkan Kampus Elit dari Amerika hingga Inggris
Pencapaian TERANGIN tergolong signifikan mengingat profil peserta yang terlibat dalam FGSIC 2026. Beberapa kampus ternama dunia yang turut berpartisipasi antara lain Georgetown University, Michigan State University, hingga University of London.
Atas keberhasilan menembus posisi empat besar, TERANGIN berhak mendapatkan pendanaan sebesar USD 3.000. Dana tersebut diproyeksikan sebagai modal pengembangan solusi sosial yang mereka usung agar memberikan dampak lebih luas bagi petani.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, memberikan apresiasi tinggi terhadap pencapaian ini. Menurutnya, keberhasilan ini membuktikan bahwa inovasi anak muda Indonesia mampu menjawab tantangan sosial global.
“Pencapaian Terangin di ajang global ini menjadi bukti bahwa inovasi anak bangsa memiliki daya saing tinggi dan mampu memberikan solusi nyata bagi tantangan sosial dunia,” kata Muhammad Baron dalam keterangannya.
Dukungan untuk Ekosistem Startup Nasional
Selain TERANGIN, Indonesia juga diwakili oleh Pe-Novtra dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Startup ini membawa teknologi alat panen kelapa sawit berbasis self-charging system yang memanfaatkan energi mekanik menjadi listrik.
Meski Pe-Novtra belum berhasil menembus posisi enam besar, kehadiran dua startup jebolan Pertamuda ini mempertegas posisi Indonesia dalam ekosistem kewirausahaan sosial dunia. FGSIC sendiri merupakan panggung bergengsi bagi mahasiswa untuk mempresentasikan ide bisnis di hadapan investor dan mentor internasional.
Keberhasilan ini diharapkan menjadi pembuka jalan bagi kolaborasi internasional lebih lanjut. Partisipasi aktif di panggung dunia seperti ini menjadi tonggak penting bagi startup lokal untuk bertransformasi menjadi social enterprise yang berkelanjutan.