DENPASAR — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali melaporkan realisasi penyaluran kredit perbankan di wilayah ini menyentuh angka Rp119,75 triliun pada Februari 2026. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 6,47 persen (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman, menyebut pertumbuhan ini merupakan sinyal positif bagi geliat ekonomi daerah di tengah dinamika global. Jika ditinjau berdasarkan lokasi proyek, angka penyaluran kredit bahkan melesat lebih tinggi hingga mencapai Rp144,20 triliun atau naik 7,24 persen YoY.
Sektor Pariwisata Jadi Motor Utama Kredit Investasi
Struktur penyaluran modal di Bali saat ini didominasi oleh kredit investasi yang mencatatkan kenaikan signifikan sebesar Rp6,32 triliun. Secara persentase, jenis kredit ini tumbuh 17,81 persen YoY, melampaui pertumbuhan kredit konsumsi yang berada di angka 4,98 persen.
"Pertumbuhan kredit utamanya ditopang oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum serta real estate. Ini menunjukkan perbankan berperan aktif dalam mendukung pembiayaan ekspansi usaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Bali," ujar Parjiman.
Sektor akomodasi dan makan minum yang menjadi tulang punggung pariwisata memberikan kontribusi nominal terbesar. Sektor ini tumbuh Rp2,20 triliun atau naik 16,82 persen YoY. Hal ini menandakan kepercayaan perbankan terhadap pemulihan penuh industri pelesiran pascapandemi.
Penyaluran Kredit UMKM di Bali Lampaui Rata-rata Nasional
Keberpihakan perbankan terhadap sektor usaha kecil tetap terjaga dengan porsi kredit UMKM mencapai 51,32 persen dari total penyaluran. Angka ini tumbuh 4,71 persen YoY, sebuah capaian yang berada di atas rata-rata pertumbuhan nasional untuk segmen serupa.
Segmen usaha mikro masih mendominasi portofolio dengan kontribusi sebesar 42,17 persen, disusul oleh segmen usaha kecil sebesar 37,43 persen. Sementara itu, dari sisi lapangan usaha, sektor perdagangan besar dan eceran menempati posisi kedua terbesar dengan porsi 27,24 persen.
Meskipun kredit investasi dan konsumsi tumbuh, kredit modal kerja justru mengalami kontraksi tipis sebesar 2,45 persen YoY. Fenomena ini mengindikasikan pelaku usaha lebih fokus pada pengembangan aset jangka panjang ketimbang pembiayaan operasional jangka pendek.
Kualitas Kredit Membaik dengan Risiko NPL yang Menurun
Seiring dengan pertumbuhan volume, kualitas aset perbankan di Bali juga menunjukkan perbaikan signifikan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat turun menjadi 2,62 persen, lebih rendah dibandingkan posisi tahun lalu yang mencapai 3,13 persen.
Indikator Loan at Risk (LaR) juga menyusut dari 11,94 persen menjadi 9,29 persen pada Februari 2026. Penurunan ini mencerminkan keberhasilan perbankan dalam melakukan restrukturisasi kredit serta membaiknya kemampuan bayar para debitur di berbagai sektor ekonomi.
Ketahanan industri perbankan lokal, termasuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR), terpantau sangat solid. OJK mencatat Cash Ratio (CR) berada di level 14,74 persen dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 28,31 persen, jauh di atas ambang batas aman regulasi.
OJK menilai stabilitas Industri Jasa Keuangan (IJK) di Bali tetap terjaga dengan likuiditas yang memadai. Kondisi ini menjadi fondasi kuat untuk mendukung keberlanjutan pembangunan ekonomi di Pulau Seribu Pura sepanjang sisa tahun 2026.