Festival Film Torino 2025: 10 dari 16 Film Kompetisi Disutradarai Perempuan

Penulis: Zulfikar Ahmad  •  Jumat, 06 November 2026 | 18:47:01 WIB
Direktur artistik Giulio Base menegaskan komposisi 10 dari 16 film kompetisi arahan perempuan di Festival Film Torino 2025 merupakan bagian dari tren industri, bukan kebijakan kuota.

BALI — Festival Film Torino edisi ke-44 menempatkan 10 dari 16 film di kompetisi utama sebagai karya sutradara perempuan, proporsi yang sama juga muncul di seleksi film pendek. Renate Reinsve, Golshifteh Farahani, dan Alicia Vikander menjadi wajah bintang di antara para sutradara emerging yang tampil. Direktur artistik Giulio Base menegaskan hasil ini bukan soal kuota.

Festival Film Torino tahun ini menerima lebih dari 5.000 submission sebelum menyusun 120 judul yang tersebar di enam seksi. Angka itu jadi bahan mentah bagi Giulio Base dan tim seleksi untuk memilih karya yang dianggap paling kuat, bukan yang paling bergengsi.

Bintang Arthouse di Kursi Sutradara Muda

Tiga film di kompetisi utama mempertemukan aktor senior dengan sutradara perempuan yang belum punya nama besar. "Butterfly" garapan Itonje Søimer Guttormsen diperkuat Renate Reinsve, sementara Chabname Zariab mengarahkan Golshifteh Farahani di "When She Hears the Bells".

Rachel Rose melengkapi daftar lewat "The Last Day" yang dibintangi Alicia Vikander dan Wagner Moura. Pola ini memperlihatkan Torino sebagai panggung bagi sineas yang baru menginjak film pertama atau kedua, dengan nama-nama arthouse sebagai penarik perhatian.

Base: Ini Tren Global, Bukan Kuota

Base menolak anggapan bahwa komposisi 10 dari 16 film arahan perempuan lahir dari kebijakan afirmatif. Menurutnya, kualitas karya yang menentukan, bukan persentase.

"Ini bagian dari tren industri film dunia. Perempuan sudah menghasilkan karya hebat, jadi ini bukan soal persentase. Saya hanya peduli pada film yang bagus, dan film bagus itu banyak," kata Base.

Ia juga tidak terlalu mengejar world premiere. Bagi Base, penonton Turin tidak perlu merasa sudah melihat semuanya di festival lain. Dia lebih memilih film terkuat yang tersedia, meski sudah tayang di tempat lain.

Tim Seleksi Muda dan Tiga Juri Perempuan

Untuk menyaring ribuan submission, Base membentuk komite seleksi berimbang gender dengan seluruh anggotanya direkrut sebelum berusia 30 tahun. Komposisi generasi muda itu dinilainya penting karena cara menonton tiap orang berbeda.

"Saya orang tua di ruangan itu, jadi saya ingin mata yang segar melihat karya dari seluruh dunia. Saat enam anak muda dan saya duduk membahas pilihan, saya sadar kami menonton dengan cara berbeda, dan saya selalu mendapat manfaat dari pertukaran itu," ujarnya.

Edisi ke-44 ini juga mencatat tiga juri yang dipimpin perempuan. Francesca Archibugi memimpin kompetisi film panjang, Stefania Casini menangani kompetisi dokumenter, dan Chiara Francini mengurusi film pendek. Retrospektif Marilyn Monroe akan diperkenalkan oleh deretan jurnalis dan akademisi perempuan.

"Marilyn sering dilihat sebagai objek sensual. Bagi saya penting bahwa 24 perempuan berbagi perspektif untuk menunjukkan dia jauh lebih dari itu," kata Base.

Film Gaza dan Dokumenter Kebakaran Diskotek

Dari 120 judul, Base menyoroti dua karya yang paling membekas baginya. Salah satunya "Thirteen in Gaza" arahan sineas Palestina Hosam Abu Da, pemenang di Toronto International Film Festival.

"Judulnya sudah bicara banyak. Ini film pertama yang syuting dan selesai di Gaza dalam 12 tahun. Saya pikir penting mendengar suara seperti ini, meski sutradaranya tidak bisa hadir karena alasan yang kita semua tahu. Orang tidak boleh melewatkan film ini," kata Base.

Karya kedua adalah dokumenter "Good People" garapan Milcho Manchevski, peraih Golden Lion Venice. Film itu mengangkat kebakaran sebuah diskotek di Makedonia sekitar 20 bulan lalu, yang oleh Base disamakan dengan insiden Crans-Montana pada malam Tahun Baru.

"Saya tidak tahu berapa anak muda yang tewas dalam kebakaran itu, tapi orang-orang yang dia wawancarai memberi kesaksian menyentuh dan tidak sensasional tentang bagaimana rasanya berada di sana. Dokumenter yang hebat dan sangat menggerakkan," ujarnya.

Ambisi Base untuk Torino

Base, yang memegang gelar doktor teologi, tetap rendah hati soal target festival. Ia menyebut sumber daya Torino hanya sekitar sepersepuluh dari festival-festival besar.

"Saya pemimpi. Saya ingin membawa festival ini ke puncak tangga lagu. Itu yang kami bangun dan itu ambisi kami. Tidak mudah, tapi kadang Daud mengalahkan Goliat," kata Base.

Dengan komposisi sutradara perempuan yang konsisten dua tahun berturut-turut, Torino memposisikan diri sebagai festival yang bertaruh pada generasi baru sineas, bukan sekadar daftar nama besar.

Reporter: Zulfikar Ahmad
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top