Rerainan Bali 31 Oktober 2026: Hari Raya Saraswati dan 13 Ala Ayuning Dewasa yang Perlu Diketahui

Penulis: Darmawan Putra  •  Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:16:01 WIB
Umat Hindu Bali melaksanakan persembahan pada perayaan Hari Raya Saraswati yang menandai turunnya ilmu pengetahuan.

DENPASAR — Hari Raya Saraswati jatuh pada Sabtu, 31 Oktober 2026, menjadi puncak rangkaian rerainan yang tersebar sepanjang bulan Oktober menurut penanggalan kalender Bali. Perayaan ini menandai pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, yakni turunnya ilmu pengetahuan ke dunia.

Rangkaian hari suci bulan Oktober 2026 dibuka dengan Kajeng Keliwon Uwudan dan Tumpek Wayang pada 10 Oktober. Dua pekan berselang, umat Hindu memperingati Purnama Kelima pada 25 Oktober, lalu memasuki rangkaian penyambutan Saraswati melalui Hari Pangredanaan pada 30 Oktober.

Apa Makna Hari Raya Saraswati bagi Umat Hindu Bali

Saraswati diperingati sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan. Pada hari ini, umat melakukan upacara selamatan terhadap semua pustaka, rontal, dan kitab sebagai bentuk penghormatan serta puji syukur ke hadapan Sang Hyang Aji Saraswati.

Perayaan Saraswati tahun ini berdekatan dengan Hari Urip (28 Oktober) dan Hari Patetegan (29 Oktober). Keduanya menjadi penanda transisi menuju puncak perayaan ilmu pengetahuan.

13 Ala Ayuning Dewasa pada 31 Oktober 2026

Kalender Bali mencatat 13 pedoman ala ayuning dewasa untuk Sabtu, 31 Oktober 2026. Sejumlah pedoman membatasi aktivitas tertentu, sementara yang lain justru menganjurkan langkah positif.

  • Carik Walangati — tidak baik untuk pernikahan/wiwaha, atiwa-tiwa/ngaben, dan membangun rumah (alahing dewasa 3).
  • Dadig Krana — baik untuk menanam tebu dan mentimun; tidak baik untuk upacara/yadnya, rapat, dan berenggama (alahing dewasa 2).
  • Gagak Anungsang Pati — tidak baik untuk upacara membakar mayat dan atiwa-tiwa (alahing dewasa 2).
  • Jiwa Menganti — baik untuk bercocok tanam dan memulai usaha (alahing dewasa 3).
  • Kajeng Uwudan — tidak baik untuk menanam dan memetik tanaman (alahing dewasa 2).
  • Kala Dangu — tidak baik untuk memulai pekerjaan, pindah tempat, dan bepergian (alahing dewasa 3).
  • Kala Gotongan — baik untuk memulai usaha; tidak baik untuk mengubur atau membakar mayat (alahing dewasa 4).
  • Pamacekan — baik untuk mengerjakan sawah/tegal dan membuat tombak penangkap ikan; tidak baik melaksanakan yadnya (alahing dewasa 2).
  • Pepedan — baik untuk membuka lahan pertanian baru; tidak baik untuk membuat peralatan dari besi (alahing dewasa 3).
  • Ratu Megambahan — tidak baik untuk membuat peraturan, menyusun rencana, dan mengangkat petugas/pejabat (alahing dewasa 2).
  • Salah Wadi — tidak baik untuk Manusa Yadnya (wiwaha, mapendes, potong rambut) dan Pitra Yadnya (penguburan, atiwa-tiwa/ngaben, nyekah, ngasti) (alahing dewasa 3).
  • Srigati — baik untuk menyimpan padi di lumbung dan menurunkan padi dari lumbung (alahing dewasa 4).
  • Srigati Turun — baik untuk membibit dan menanam padi, menyimpan padi, mengaturkan yadnya di lumbung, menanam kelapa, dan mulai membuat barang dagangan (alahing dewasa 4).

Pararasan dan Pancasuda: Laku Bulan hingga Manggih Suka

Penanggalan 31 Oktober 2026 juga memuat pararasan Laku Bulan dan pancasuda Bumi Kepetak. Keduanya kerap dijadikan rujukan dalam menentukan langkah usaha dan kegiatan adat.

Ekajalaresi pada hari itu tercatat Manggih Suka, sementara pratiti berada pada Wedana. Rangkaian ini melengkapi pedoman dewasa yang biasa dipakai umat Hindu Bali dalam menyusun agenda pernikahan, yadnya, hingga aktivitas pertanian.

Rerainan Sepanjang Oktober 2026

Selain Saraswati, bulan Oktober 2026 memuat sejumlah rerainan penting. Tumpek Wayang pada 10 Oktober diperingati sebagai upacara yang berkenaan dengan kesenian wayang, persembahan ke hadapan Bhatara Iswara agar kesenian itu lestari, menyenangkan, dan bertuah.

Pada 14 Oktober, Buda Wage Kulawu diisi pemujaan terhadap Bhatara Rambut Sedhana yang melimpahkan kemakmuran dan kesejahteraan. Dua hari berselang, 16 Oktober, umat memperingati Hari Bhatara Sri.

Kajeng Keliwon Pamelastali/Watugunung Runtuh dan Purnama Kelima jatuh bersamaan pada 25 Oktober. Rangkaian dilanjutkan dengan Paid-Paidan (27 Oktober), Hari Urip (28 Oktober), Hari Patetegan (29 Oktober), dan Hari Pangredanaan (30 Oktober) sebagai persiapan menyambut Saraswati.

Reporter: Darmawan Putra
Sumber: radarbali.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top