BALI — Koreksi terjadi merata. Sektor energi mencatat penurunan terdalam 2,06%, sedangkan sektor teknologi paling terbatas dengan koreksi 0,56%. Jika dihitung mencakup seluruh pasar, nilai jual bersih investor asing mencapai Rp1,95 triliun.
Sejumlah saham tetap bergerak menguat di tengah tekanan. KPIG naik 28,79%, CUAN tumbuh 4,79%, dan ANTM menguat 2,19%. Sebaliknya, BBRI turun 2,92%, BYAN melemah 4,90%, dan BBCA terkoreksi 1,53%.
Bursa Amerika Serikat kompak melemah. Dow Jones turun 0,60% ke 52.064, S&P 500 terkoreksi 0,58% ke 7.591, dan Nasdaq turun 0,65% ke 26.081.
Dari dalam negeri, investor melakukan positioning menjelang pengumuman review GDX/GDXJ. Ketidakpastian soal potensi passive flow dari ETF berbasis GDX/GDXJ menekan sejumlah saham emas. ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia masing-masing turun 2,13% dan 1,29%.
NexAI Digital Infrastruktur (MGLV) menerbitkan maksimal 285,73 juta saham baru dengan harga pelaksanaan Rp8.880 per saham. Perseroan berpotensi meraup dana sekitar Rp2,54 triliun dari aksi korporasi ini.
Rencana tersebut telah disetujui dalam RUPSLB pada 7 September 2026. Dana hasil rights issue akan dipakai mengembangkan AI data center Tier III berkapasitas total 102 MW.
Pengembangan mencakup ekspansi fasilitas 36 MW di Jababeka dan pembangunan data center 60 MW di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang. Sebagian dana dialokasikan untuk penguatan struktur modal melalui pengambilalihan piutang anak usaha.
Nextier Datamate Center selaku pemegang saham utama menyatakan komitmen menyerap seluruh haknya dengan nilai sekitar Rp1,85 triliun. Dari sisi teknikal, saham MGLV berpotensi bergerak menuju area Rp16.850, level fibonacci extension 2.618.
Medco Energi Internasional (MEDC) menargetkan first gas dari Blok Sakakemang pada kuartal III 2027. Perseroan mempertahankan target produksi migas 2026 di kisaran 165–170 mboepd dengan capex US$415 juta untuk segmen Oil & Gas.
Selain Sakakemang, proyek lain yang menjadi fokus pengembangan adalah Suban, Sambar, dan Bualuang. Senoro Phase 2A telah beroperasi penuh sejak Juni 2026, sedangkan Bualuang Renewal Plan Phase I mulai berproduksi pada kuartal II 2026.
Dalam jangka pendek, saham MEDC berpotensi menuju area gap Rp1.695. Pergerakan didukung volume yang relatif stabil dan indikator stochastic yang menunjukkan arah naik.
Hartadinata Abadi (HRTA) berencana menerbitkan maksimal 460,53 juta saham baru lewat private placement, setara 10% dari total saham ditempatkan dan disetor penuh. Harga pelaksanaan ditetapkan paling sedikit 90% dari rata-rata harga penutupan selama 25 hari bursa berturut-turut di pasar reguler.
Dengan asumsi harga penutupan 10 September 2026, perseroan berpotensi memperoleh dana sekitar Rp1,02 triliun. Seluruh dana akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja.
Berdasarkan proforma per 30 Juni 2026, total ekuitas HRTA diproyeksikan naik 27,90% menjadi Rp4,79 triliun dan total aset naik 9,21% menjadi Rp12,40 triliun. Rasio liabilitas terhadap ekuitas diproyeksikan turun dari 2,03 kali menjadi 1,59 kali.
Pemegang saham eksisting berpotensi mengalami dilusi sekitar 9,09%. Kepemilikan PT Terang Anugrah Abadi sebagai pengendali diproyeksikan turun dari 71,05% menjadi 64,59%. Rencana ini masih menunggu persetujuan RUPS Independen pada 16 Oktober 2026.
Investasi mengandung risiko. Segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif, bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.