BADUNG — Persiapan peringatan tragedi kemanusiaan Bom Bali 2002 resmi memasuki tahap finalisasi dengan standar protokol internasional. Anggota Komite I DPD RI utusan Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna M.W.S. III (AWK), menyebut pengawalan tata cara dan etika menjadi vital karena acara ini akan dihadiri warga asing serta keluarga korban dari Australia dan Jepang.
Rapat koordinasi di Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Badung pada Selasa (4/8/2026) itu melibatkan Sekretaris Dinas Pariwisata Badung, Kesbangpol Kabupaten Badung, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Kuta, serta Yayasan Isana Dewata yang mewakili para korban dan keluarga korban.
AWK menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Badung dan Bupati Badung atas alokasi anggaran APBD yang dikucurkan khusus untuk mendanai agenda Doa Perdamaian. Ia menilai dukungan finansial daerah ini menjadi fondasi utama kelancaran acara yang melibatkan perwakilan dari 22 negara.
Sebagai jajaran Komite I DPD RI yang membidangi Hukum, Pertahanan, Keamanan, dan Kerja Sama Parlemen Internasional, AWK menegaskan komitmen lembaganya dalam penanggulangan terorisme. DPD RI bakal memperkuat sinergi di lapangan melalui koordinasi intensif bersama pemerintah pusat.
Koordinasi tersebut mencakup pemangku kepentingan nasional seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Densus 88 Antiteror Polri, serta kementerian terkait. Langkah ini dinilai penting untuk mempertegas posisi Indonesia di mata dunia sebagai negara yang aman dan berkomitmen penuh melawan segala bentuk tindakan terorisme.
Sinergi erat antara Pemkab Badung, masyarakat Kuta, dan seluruh elemen terkait diharapkan tidak hanya menyukseskan gelaran acara, tetapi juga memperkuat pesan perdamaian dari Indonesia ke panggung internasional.
Di luar agenda Doa Perdamaian, AWK juga memberi apresiasi mendalam atas realisasi pembangunan Museum Tragedi Bom Bali oleh Pemkab Badung. Proyek ini menjadi jawaban atas penantian panjang selama lebih dari dua dekade sejak peristiwa 2002 silam.
Museum ini diproyeksikan menjadi simbol sejarah sekaligus wadah penyampai pesan kebangkitan perdamaian dari Badung untuk dunia. Keberadaannya diharapkan memperkuat narasi bahwa Bali bangkit dari tragedi dan menjadi destinasi global yang aman bagi wisatawan mancanegara.