BALI — Koreksi tajam ini terjadi setelah Trump mengaku mendapat desakan dari sejumlah sekutu utama AS di kawasan, termasuk Arab Saudi, untuk menunda aksi militer dan mengutamakan jalur diplomasi. Keputusan itu meredam kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah yang sempat memicu reli harga sepanjang Juli.
Trump juga kembali menyerukan agar Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling krusial di dunia, segera dibuka kembali. Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa eskalasi konflik dapat dihindari dalam waktu dekat.
Tekanan tambahan terhadap harga datang dari sisi suplai. Negara-negara anggota OPEC+ telah menyetujui peningkatan kuota produksi dalam jumlah terbatas, sebagai bagian dari rencana pemulihan produksi yang sebelumnya dipangkas pada 2023.
Kelompok produsen minyak itu juga membuka peluang untuk menambah pasokan lebih lanjut setelah konflik di Timur Tengah berakhir. Langkah ini dinilai pasar sebagai upaya preventif untuk mendinginkan harga yang sempat melonjak sekitar 25 persen sepanjang Juli.
Sebelum keputusan Trump tersebut, konflik terbaru antara AS dan Iran nyaris menggagalkan kesepakatan damai sementara yang telah disepakati sebelumnya. Ketegangan itu memperburuk gangguan pasokan energi di dua jalur utama sekaligus, yakni Selat Hormuz dan Laut Merah.
Kekhawatiran akan kelancaran pengiriman minyak mentah dan produk turunannya menjadi pemicu utama kenaikan harga selama beberapa pekan terakhir. Kini, dengan dibukanya kembali ruang dialog, pelaku pasar mulai memasukkan faktor penurunan risiko geopolitik ke dalam perhitungan harga.
Kondisi ini menjadi angin segar bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, yang selama ini terbebani oleh tingginya biaya impor energi. Namun, pasar tetap mencermati apakah perundingan berikutnya akan menghasilkan kesepakatan konkret atau kembali buntu.