Review Sony BRAVIA 9 II 85 Inch: Layar RGB Paling Terang, Tapi Harga dan Ukurannya Bukan untuk Semua Orang

Penulis: Darmawan Putra  •  Minggu, 02 Agustus 2026 | 18:36:31 WIB
Sony BRAVIA 9 II 85 inci tampil dengan desain Harmonic Presence dan stand transparan yang menyembunyikan kabel.

BALI — Kami mendapat kesempatan menguji Sony BRAVIA 9 II (K-85XR90M2) selama beberapa hari di ruang tamu seluas 4x5 meter. TV 85 inci ini adalah model premium terbaru Sony untuk 2026, dan satu-satunya varian yang resmi masuk Indonesia. Sebelum membahas lebih jauh, perlu ditegaskan: ini bukan sekadar TV besar biasa—teknologi RGB backlight-nya adalah lompatan besar dari LED putih konvensional.

Desain Harmonic Presence: Stand Transparan yang Menyembunyikan Kabel

Sony membawa konsep "Harmonic Presence" ke BRAVIA 9 II—TV ini dirancang menyatu dengan ruangan, bukan jadi objek dominan. Mirage Stand dengan panel transparan di bagian leher membuat TV tampak mengambang, sekaligus menyembunyikan kabel yang menjuntai dari belakang. Hasilnya, area sekitar TV terlihat sangat rapi tanpa perlu cable management tambahan.

Bezel-nya tipis untuk ukuran raksasa ini: sekitar 9–9,5 mm di sisi kiri, atas, dan kanan, dengan frame bawah 13,5 mm. Di frame bawah ada sensor, mic, dan lampu indikator. Tombol power dan switch built-in mic berada di sisi kiri bawah. Dimensi tanpa stand adalah 189,2 x 107,6 x 42,2 cm; dengan stand tingginya jadi 115,8 cm dan tapak 44,1 x 44,3 cm—cukup untuk meletakkan soundbar di kolong TV.

True RGB Backlight: Kenapa Warna dan Kecerahannya Beda Kelas

Ini bagian paling menarik dari BRAVIA 9 II. Alih-alih LED putih dengan color filter, Sony menggunakan RGB Backlight Master Drive Pro—tiga LED warna utama (merah, hijau, biru) yang dikendalikan secara independen. Efeknya langsung terasa: warna merah tidak lagi terlihat oranye, biru tidak kehijauan, dan putih benar-benar netral. RGB Triluminos Max dan XR Contrast Booster 40 bekerja sama menghasilkan kecerahan yang membuat konten HDR terasa "menyala" tanpa kehilangan detail di area gelap.

Smooth Color Gradation juga bekerja baik—gradasi warna langit saat matahari terbenam tidak terlihat pita (banding). Untuk sudut pandang, X-Wide Angle Pro menjaga konsistensi warna hingga sekitar 170 derajat; kami duduk di posisi 60 derajat dari sumbu TV dan perbedaannya nyaris tak terlihat. Immersive Black Screen Pro menekan refleksi cahaya, jadi menonton siang hari dengan jendela terbuka tidak terlalu mengganggu.

Performa Audio: Beam Tweeter Membuat Suara Seolah dari Arah Gambar

Audio BRAVIA 9 II menggunakan Acoustic Multi-Audio+ dengan Beam Tweeter menghadap ke atas. Konfigurasi 2.2.2 channel terdiri dari 2 up-firing tweeter, 2 X-Balanced Speaker, 2 Sound Positioning Tweeter, dan 2 subwoofer—total 80 watt. Saat menonton adegan helikopter melintas, suara terdengar bergerak dari kiri ke kanan mengikuti posisi objek di layar. Efek ini paling terasa di konten Dolby Atmos; dialog tetap jelas tanpa perlu menaikkan volume melewati 50%.

Untuk koneksi audio, port Digital Audio Out bisa dialihkan menjadi S-Center Speaker Input—soundbar Sony tertentu bisa dipasang dan TV akan berfungsi sebagai center channel. Fitur Voice Zoom 3 membantu memperjelas dialog di konten dengan background noise tinggi.

Fitur dan Konektivitas: Google TV dengan Gemini AI, HDMI 2.1 untuk Gamer

BRAVIA 9 II menjalankan Google TV dengan Gemini AI. Asisten ini bisa menjawab pertanyaan kontekstual tentang konten yang sedang ditonton—misalnya "siapa aktor di film ini?" tanpa harus keluar dari aplikasi. Chromecast Built-In, Apple AirPlay, dan Apple HomeKit tersedia; aplikasi Sony Pictures Core juga sudah terpasang. TV ini mendukung DVB-T2, jadi siaran TV digital lokal bisa langsung ditangkap dengan antena standar tanpa STB tambahan.

Untuk konektivitas, ada dua port HDMI 2.1 yang mendukung 4K120 dan VRR—wajib dipakai untuk gaming. Dua port HDMI 2.0 lainnya cukup untuk perangkat sekunder seperti set-top box atau konsol lawas. Port HDMI 3 mendukung eARC untuk soundbar. Wi-Fi 6E dan Bluetooth 5.3 melengkapi paket konektivitas nirkabel.

Kekurangan dan Catatan Penting Sebelum Membeli

Jujur, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum mengeluarkan uang puluhan juta untuk TV ini. Pertama, hanya tersedia ukuran 85 inci di Indonesia—kalau ruanganmu tidak cukup besar atau jarak menonton kurang dari 3 meter, TV ini akan terasa terlalu dominan dan mata cepat lelah. Kedua, harga premium di kelasnya; sebagai perbandingan, kompetitor dengan ukuran serupa dan fitur setara biasanya dibanderol lebih rendah. Ketiga, paket penjualan minim—tidak ada bracket wall-mounting, hanya stand meja. Kalau ingin dipasang di dinding, siapkan biaya tambahan.

Remote-nya juga menggunakan Bluetooth dengan charging USB-C—bukan baterai AAA biasa. Ini lebih ramah lingkungan, tapi kalau lupa charge, remote mati di tengah menonton. Kabel power sudah terpasang permanen, jadi penempatan TV harus mempertimbangkan posisi stop kontak.

Verdict: Layar Terbaik di Kelasnya, Tapi Butuh Ruangan yang Tepat

BRAVIA 9 II adalah TV dengan kualitas gambar terbaik yang pernah kami uji di kelas 4K—RGB backlight membuat perbedaan yang langsung terasa, bukan sekadar klaim marketing. Kecerahan ekstrem, warna akurat, sudut pandang lebar, dan audio yang immersive menjadikannya pilihan tepat untuk home theater serius.

Namun, TV ini hanya cocok untuk ruangan luas dengan jarak menonton minimal 3,5 meter. Kalau kamu mencari TV 65–75 inci dengan kualitas gambar setara, Sony punya opsi lain di lineup BRAVIA yang lebih masuk akal untuk ruangan standar Indonesia. Untuk yang sudah punya ruangan dedicated home theater dan budget tidak masalah, BRAVIA 9 II adalah investasi yang tidak akan mengecewakan.

Reporter: Darmawan Putra
Sumber: jagatreview.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top