Tri Hita Karana Jangan Cuma Jadi Slogan, Etika Hindu terhadap Alam Kunci Pariwisata Bali yang Berkelanjutan

Penulis: Bayu Nugroho  •  Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:40:31 WIB
Gubernur Bali menegaskan penanganan sampah menjadi agenda prioritas daerah tahun ini, dengan sektor Horeka menyumbang 41 persen timbulan sampah nonrumah tangga di Badung.

DENPASAR — Pemerintah Provinsi Bali bahkan telah menempatkan persoalan sampah sebagai agenda prioritas tahun ini. Dalam sosialisasi pengelolaan sampah untuk sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka), Gubernur Bali menyebut sekitar 41 persen timbulan sampah nonrumah tangga di Kabupaten Badung berasal dari sektor tersebut. Badung, sebagai jantung industri pariwisata, juga tengah menghadapi persoalan kemacetan, banjir, dan meningkatnya kebutuhan air bersih seiring pesatnya pembangunan.

Fondasi Pariwisata yang Mulai Menunjukkan Tekanan

Pembangunan hotel, vila, restoran, dan fasilitas wisata terus berkembang mengikuti permintaan pasar. Di sisi lain, kualitas sejumlah badan air mengalami penurunan dan ruang hijau semakin berkurang. Kekhawatiran masyarakat terhadap perubahan bentang alam yang terjadi dalam waktu relatif singkat pun mulai mengemuka.

Padahal, daya tarik Bali tidak pernah lahir dari keindahan pantai semata. Wisatawan datang untuk merasakan perpaduan antara alam, budaya, dan spiritualitas masyarakat yang memegang teguh tradisi Hindu. Dengan kata lain, lingkungan alam adalah fondasi yang membangun citra Bali di mata dunia, bukan sekadar pelengkap industri.

Mengapa Etika Hindu Menjadi Kunci?

Filosofi Tri Hita Karana selama ini kerap dikutip dalam seminar, promosi pariwisata, hingga dokumen kebijakan. Namun, nilai harmonisasi antara manusia dan alam (palemahan) tidak boleh berhenti sebagai simbol atau slogan. Keharmonisan menuntut kesadaran bahwa alam memiliki nilai yang harus dihormati, bukan sekadar sumber daya yang bisa dimanfaatkan tanpa batas.

Pandangan ini telah lama hidup dalam ajaran Hindu. Atharva Veda menyatakan, M?t? Bh?mih Putro Aham P?thivy??—bumi adalah ibu dan manusia adalah anaknya. Seorang anak tentu tidak akan merusak rumah ibunya sendiri. Pesan ini semakin relevan di Bali, di mana mata air tidak hanya sumber kehidupan tetapi juga memiliki nilai kesucian untuk tradisi penyucian tirta. Gunung dihormati sebagai kawasan suci, hutan dijaga sebagai penyangga kehidupan, dan laut dimuliakan sebagai bagian dari keseimbangan kosmis.

Pembangunan yang Mengabaikan Daya Dukung Justru Melemahkan Ekonomi

Tulisan ini bukan hendak menolak pembangunan ataupun investasi. Pariwisata telah memberikan manfaat besar bagi perekonomian Bali dan menjadi sumber penghidupan banyak keluarga. Namun, alam yang rusak akan mengurangi kualitas pengalaman wisata, menurunkan daya tarik destinasi, dan pada akhirnya berdampak terhadap keberlanjutan ekonomi masyarakat.

“Sudah saatnya keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur melalui jumlah kunjungan wisatawan atau besarnya pendapatan daerah,” demikian pernyataan yang mengemuka dalam diskusi tersebut. “Keberhasilan juga harus tercermin dari sungai yang tetap bersih, pantai yang terjaga, sawah yang tidak terus menyusut, serta mata air yang tetap mengalir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.”

Oleh karena itu, pembangunan pariwisata semestinya tidak hanya mempertimbangkan besarnya investasi atau jumlah wisatawan yang datang. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pembangunan tersebut menjaga keberlanjutan sumber air, mempertahankan ruang hijau, dan menghormati kawasan suci yang menjadi penopang identitas Bali.

Reporter: Bayu Nugroho
Sumber: nusabali.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top