BALI — Proyek yang menjadi bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali ini dibangun dalam tiga jalur produksi, yaitu Line A, B, dan C. Kedatangan autoclave—bejana tekan raksasa yang menjadi jantung proses pelindian tekanan tinggi—menandai fase krusial yang sebelumnya belum pernah dicapai di proyek serupa di kawasan tersebut.
Pengamat tambang dan energi, Ferdy Hasiman, menilai pembangunan fasilitas HPAL kini bukan lagi sekadar pilihan strategis, melainkan kebutuhan mutlak bagi pemain industri nikel. Menurutnya, perusahaan yang tidak berinvestasi di proyek hilirisasi berisiko tertinggal dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik yang tumbuh pesat.
"Sebagian besar belanja modal (capex) perusahaan tambang saat ini memang diarahkan untuk pembangunan HPAL karena fasilitas ini akan menjadi tulang punggung ekosistem kendaraan listrik. Sejauh ini, MIND ID melalui Vale termasuk yang paling agresif mengembangkan proyek tersebut," ujar Ferdy dalam keterangannya, Minggu (26/7).
Ia menambahkan, agresivitas Vale juga didukung oleh pengalaman jajaran manajemennya yang memahami kompleksitas proyek HPAL. Di sisi lain, beberapa perusahaan nikel swasta disebutnya kurang agresif dalam dua tahun terakhir, kemungkinan akibat regulasi yang kerap berubah.
Proyek ini tidak hanya melibatkan modal asing, tetapi juga menjadi ajang kolaborasi lintas negara antara Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani, menekankan bahwa proyek Vale bukan sekadar fasilitas industri, melainkan ekosistem hilirisasi yang lengkap dan berkelanjutan.
"Proyek hilirisasi Vale menempatkan standar baru dalam kolaborasi internasional yang selaras dengan kepentingan nasional: membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, serta menciptakan nilai tambah tinggi yang mendukung agenda Net Zero Emissions," kata Rosan.
Dari sisi daerah, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny Arniwaty Lamadjido, mengapresiasi pendekatan pembangunan yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi. Ia menilai kolaborasi yang memberi ruang bagi UMKM lokal dan keterbukaan terhadap fasilitas publik menjadi model pembangunan kawasan industri yang inklusif.
Kehadiran pabrik HPAL ini diharapkan mampu mendorong efek ganda bagi Kabupaten Morowali dan sekitarnya, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga pengembangan usaha kecil. Dengan target penyelesaian pada 2026, proyek ini menjadi salah satu barometer keseriusan Indonesia dalam menguasai rantai pasok baterai global dari hulu ke hilir.