DENPASAR — Di balik gemerlap panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, ada tugas jurnalistik yang jauh lebih berat dari sekadar melaporkan pertunjukan. Dewan Kehormatan PWI Bali, Drs. IGM Dwikora Putra, mengingatkan bahwa media arus utama harus menjadi ruang verifikasi yang terpercaya di tengah banjir informasi yang belum tentu benar di media sosial.
“Pers harus menjadi cleaning house. Jangan sampai masyarakat hanya mengonsumsi informasi yang belum tentu benar dari media sosial. Di sinilah media arus utama memiliki tanggung jawab untuk menjernihkan informasi,” ujar Dwikora dalam diskusi bertajuk Peran Media dalam Publikasi dan Dokumentasi Pesta Kesenian Bali (PKB).
Dwikora, jurnalis yang malang melintang sejak 1991, menilai peliputan PKB selama ini kerap berhenti pada foto pertunjukan dan laporan kegiatan. Padahal, peliputan ideal harus berlangsung dalam tiga tahap: sebelum, selama, dan sesudah festival.
Sebelum festival, media perlu mengulas tema dan proses kreatif. Saat festival berlangsung, wartawan harus menangkap dinamika gagasan. “Setelah festival usai, media masih punya tugas melakukan evaluasi dan menyusun catatan kritis,” katanya. Dengan begitu, berita tidak berhenti sebagai laporan peristiwa, melainkan menjadi dokumentasi intelektual untuk masa depan.
Guru Besar Universitas Udayana, Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, menegaskan bahwa perjalanan PKB selama puluhan tahun tidak akan terdokumentasi tanpa media massa. “Kalau tidak ada pemberitaan media, kita akan kehilangan banyak catatan tentang perjalanan PKB,” ujarnya.
Namun, ia menyoroti soal pembiayaan yang kerap menjadi kendala. Ia mendorong sanggar dan yayasan seni menjalin kemitraan dengan sektor swasta melalui program CSR. “Banyak perusahaan di Bali yang sebenarnya ingin menyalurkan CSR mereka. Dukungan itu bisa diarahkan untuk memperkuat publikasi dan dokumentasi kegiatan seni budaya,” kata Darma Putra.
Ketua PWI Bali I Wayan Dira Arsana menambahkan, peran wartawan budaya bukan sekadar profesi, melainkan panggilan moral. Menurut Pemimpin Redaksi Bali Post tersebut, kehadiran Kawiya Bali menjadi angin segar karena membuka ruang kolaborasi antara wartawan, akademisi, dan pegiat budaya.
“Ini menjadi upaya untuk mendekatkan kembali jurnalis pada fungsi utamanya. Jurnalis di Bali memiliki tanggung jawab moral terhadap keberdayaan budaya, yakni menyuarakan, membesarkan, dan mendokumentasikannya,” pungkasnya. Diskusi yang dipandu Dr. I Made Sujaya itu pun menegaskan bahwa di era digital, akurasi dan kedalaman adalah harga mati bagi jurnalisme budaya Bali.