BALI — Klub Premier League Chelsea mengonfirmasi kabar duka tersebut melalui pernyataan resmi, Sabtu (15/3) waktu setempat. "Dengan kesedihan mendalam, kami membagikan berita kepergian Ken Bates, mantan pemilik dan ketua Chelsea Football Club," tulis pernyataan klub.
"Ken telah meninggal dengan tenang di Monako, ditemani istri dan keluarganya. Kami menyampaikan belasungkawa tulus kepada istrinya, Suzannah, serta seluruh keluarga dan teman-temannya. Keteguhan Ken dalam memperjuangkan Chelsea saat masa-masa sulit dan membawa tim meraih trofi tidak akan pernah terlupakan," lanjut pernyataan itu.
Bates membeli Chelsea pada 1982 saat klub tersebut terlilit utang parah dan terdegradasi ke Divisi Dua. Harga pembelian yang hanya £1 mencerminkan kondisi klub yang nyaris bangkrut. Namun, dalam dua dekade kepemimpinannya, Bates mengubah wajah Chelsea sepenuhnya.
Ia mendatangkan pemain-pemain kunci seperti Kerry Dixon, Pat Nevin, dan David Speedie yang membawa Chelsea kembali ke Divisi Satu pada 1984. Di era 1990-an, Bates merevolusi Stamford Bridge dengan renovasi besar-besaran dan membangun tim bertabur bintang: Gianfranco Zola, Gianluca Vialli, Ruud Gullit, dan Marcel Desailly. Hasilnya, Chelsea memborong gelar FA Cup, League Cup, dan Piala Winners.
Namun, kesuksesan itu dibayangi utang £80 juta. Pada musim panas 2003, Bates menerima tawaran £140 juta dari Roman Abramovich, miliarder Rusia yang saat itu belum dikenal luas. Penjualan itu menjadi titik balik sepak bola Inggris—Abramovich memicu belanja besar-besaran yang mengubah Chelsea menjadi kekuatan dominan di Premier League dan Eropa.
Sepanjang kariernya, Bates tak pernah lepas dari kontroversi. Pada 1985, ia memasang pagar listrik setinggi 12 kaki di sekeliling stadion untuk mencegah penonton masuk lapangan. Rencana itu gagal setelah Dewan London Raya melarang pagar tersebut diaktifkan atas dasar keselamatan.
Ia juga terlibat perseteruan sengit dengan wakil ketua Matthew Harding yang tewas dalam kecelakaan helikopter pada 1996. Di luar lapangan, Bates bertengkar dengan berbagai pihak—dari pengembang properti hingga suporter—dan jarang meminta maaf.
Setelah meninggalkan Chelsea pada Maret 2004, Bates membeli 50% saham Leeds United pada 2005. Ambisinya mengulang sukses di Chelsea pupus. Di bawah kepemimpinannya, Leeds jatuh ke administrasi pada 2007 dengan utang £30 juta, termasuk £7 juta ke HM Revenue and Customs. Klub kena pengurangan poin 10 poin dan terdegradasi ke League One, lalu dihukum lagi 15 poin.
Leeds sempat kembali ke Championship pada 2010, tapi gagal menembus Premier League selama masa jabatan Bates. Ia akhirnya menjual sahamnya pada 2012.
Bates, yang lahir di Ealing, London barat, pada Desember 1931, menjalani masa kecil sulit setelah ibunya meninggal dan ayahnya pergi. Ia dibesarkan kakek-neneknya di flat dewan kota. Meski sempat bermimpi menjadi pemain sepak bola, kaki pengkor yang dideritanya sejak lahir menggagalkan ambisi itu. Ia beralih ke bisnis dan sukses di bidang angkutan, tambang, beton siap pakai, dan peternakan sapi perah sebelum akhirnya kembali ke sepak bola—cinta pertamanya.