DENPASAR — Eka Prasetya, jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC) di Beijing. Kegiatan ini mempertemukan puluhan wartawan dari berbagai negara untuk melihat langsung bagaimana Tiongkok mengelola komunikasi publik dan transformasi digitalnya.
Selama di Beijing, Eka mengikuti serangkaian sesi yang mencakup kunjungan ke kantor berita nasional, platform media sosial, hingga pusat riset teknologi. Ia menyaksikan bagaimana pemerintah Tiongkok mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam distribusi informasi publik.
“Mereka sangat serius dalam membangun infrastruktur komunikasi. Setiap kebijakan disertai dengan strategi diseminasi yang terukur,” tulis Eka dalam catatan perjalanannya.
Eka juga mencatat sejumlah perbedaan mendasar antara ekosistem media di Tiongkok dan Indonesia. Di Tiongkok, platform digital dan media arus utama bekerja dalam satu kerangka regulasi yang ketat, sementara di Indonesia lebih cair dan berbasis pasar.
Ia menilai pengalaman ini membuka wawasan tentang bagaimana media daerah bisa beradaptasi dengan teknologi baru tanpa kehilangan identitas lokal. “Bali punya potensi besar untuk mengembangkan konten digital yang berbasis kearifan lokal,” ujarnya.
Program CIPCC sendiri merupakan inisiatif Pemerintah Tiongkok untuk memperkuat hubungan antarnegara melalui jalur jurnalisme. Peserta tidak hanya diberi materi teori, tetapi juga diajak ke lapangan untuk melihat implementasi kebijakan komunikasi secara langsung.
Eka berharap catatan perjalanannya bisa menjadi bahan diskusi di kalangan jurnalis Bali tentang masa depan media lokal. “Kita tidak perlu meniru semuanya, tapi bisa mengambil pelajaran dari cara mereka membangun kepercayaan publik melalui informasi yang akurat,” pungkasnya.