BALI — Figma, perusahaan desain antarmuka yang sudah menjadi nama besar di kalangan desainer dan developer, kembali melakukan langkah strategis. Pekan lalu, mereka mengumumkan akuisisi terhadap tim di balik platform Bud, sebuah startup lulusan Y Combinator yang fokus pada pengembangan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Awalnya dikenal sebagai Orchids, startup ini membangun platform yang memungkinkan pengguna membuat aplikasi untuk mobile, web, Slack, hingga browser hanya dengan perintah sederhana—konsep yang dikenal sebagai "vibe-coding". Belakangan, mereka bertransformasi menjadi Bud, sebuah platform agen AI yang mampu mengakses berbagai layanan, menjelajahi web, dan menulis kode untuk mengotomatiskan tugas-tugas kompleks.
CEO Bud, Kevin Lu, mengumumkan kabar ini melalui akun X pribadinya. "Figma adalah salah satu perusahaan produk paling menentukan di zaman kita. Di sinilah ide-ide dimulai, diiterasi, dan diwujudkan. Ini adalah rumah alami untuk era kerja baru yang menarik ini," tulis Lu.
Konsekuensi langsung dari akuisisi ini adalah penutupan total platform Bud dan Orchids. Perusahaan akan menghentikan operasional kedua layanan tersebut paling lambat 18 Juli mendatang. Seluruh pengguna diwajibkan untuk memigrasikan proyek mereka sebelum batas waktu tersebut jika tidak ingin kehilangan data.
Kabar ini mungkin menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pengguna setia Orchids. Pasalnya, awal tahun ini, BBC melaporkan temuan dari seorang peneliti keamanan siber yang menyatakan bahwa aplikasi yang dibuat di platform Orchids rentan terhadap serangan siber. Meski demikian, Figma belum memberikan pernyataan resmi terkait kerentanan tersebut atau bagaimana mereka akan menanganinya ke depan.
Figma belum merinci secara spesifik bagaimana mereka akan memanfaatkan tim Bud. Namun, jejak langkah perusahaan dalam beberapa bulan terakhir sudah memberikan petunjuk yang jelas. Sepanjang tahun lalu, Figma meluncurkan Figma Make, sebuah fitur untuk membuat aplikasi web langsung dari kanvas desain.
Memasuki tahun ini, perusahaan semakin agresif dengan mengintegrasikan alat-alat AI canggih seperti Codex dan Claude Code, serta meluncurkan agen AI milik mereka sendiri. Akuisisi tim Bud menjadi bukti bahwa Figma serius ingin menjembatani kesenjangan antara desain visual dan pengembangan fungsional.
Bagi para profesional kreatif dan developer di Indonesia, langkah Figma ini patut dicermati. Integrasi yang lebih erat antara desain dan coding berarti alur kerja yang lebih mulus. Seorang desainer kini bisa langsung membuat prototipe fungsional tanpa perlu menunggu developer menerjemahkan desain ke dalam kode.
Di sisi lain, para developer juga diuntungkan karena bisa langsung mengerjakan proyek di lingkungan yang sudah familiar. Ini bisa mempercepat siklus pengembangan produk secara signifikan, terutama untuk startup dan agensi digital di Indonesia yang kerap bekerja dengan tenggat waktu ketat.
Meski belum ada tanggal pasti kapan fitur-fitur dari Bud akan terintegrasi penuh ke Figma, satu hal sudah jelas: masa depan desain dan coding semakin dekat, dan Figma ingin menjadi pusat gravitasinya.