BALI — Berdasarkan pemetaan PLN EPI, potensi biomassa yang layak dimanfaatkan tersebar di berbagai wilayah. Sumatra menjadi penyumbang terbesar dengan 42,8 juta ton per tahun, disusul Kalimantan 18,9 juta ton, Jawa 13,1 juta ton, Sulawesi 5,1 juta ton, Papua-Maluku 1,9 juta ton, serta Bali-Nusa Tenggara sekitar 1,5 juta ton.
Bahan baku utama berasal dari limbah sawit, kehutanan, pertanian, perkebunan, hingga sampah perkotaan. Selama ini, residu tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui program co-firing, tandan kosong kelapa sawit, cangkang sawit, sekam padi, tongkol jagung, pelepah sawit, dan limbah kayu diolah menjadi pelet biomassa untuk menggantikan sebagian konsumsi batu bara di PLTU.
Hokkop Situngkir menegaskan bahwa pengembangan biomassa tidak sekadar substitusi energi. "Bioenergi bukan hanya mengganti batu bara. Yang kami bangun adalah ekosistem bioenergi dari desa hingga pembangkit listrik. Di dalamnya ada petani, koperasi, pelaku usaha, hingga industri yang bersama-sama memperoleh nilai tambah dari pemanfaatan biomassa," ujarnya dalam Symposium Energy di Institut Teknologi PLN (ITPLN), Jakarta, pekan lalu.
Skema ini dirancang agar masyarakat desa menjadi bagian dari rantai pasok energi nasional. Petani dan koperasi bisa memasok limbah pertanian atau perkebunan yang kemudian diolah menjadi bahan bakar pembangkit. Dengan begitu, lapangan kerja hijau terbuka di daerah-daerah penghasil biomassa.
Menurut Hokkop, co-firing menjadi salah satu cara paling cepat untuk menekan emisi tanpa harus membangun pembangkit baru. PLTU yang sudah beroperasi cukup dimodifikasi agar bisa mencampur batu bara dengan pelet biomassa. Teknologi ini sudah diuji coba di sejumlah PLTU milik PLN Group.
PLN EPI menargetkan peningkatan pemanfaatan biomassa secara bertahap seiring dengan ketersediaan pasokan dan kesiapan infrastruktur. Jika ekosistem ini berjalan optimal, ketahanan energi nasional bisa diperkuat tanpa bergantung penuh pada impor energi fosil.
Dengan potensi 83,4 juta ton per tahun yang tersebar dari Sumatra hingga Papua, Indonesia memiliki modal besar untuk mengakselerasi transisi energi bersih. Tantangannya kini ada pada konsistensi pasokan, logistik, dan partisipasi aktif masyarakat di seluruh rantai pasok.