GIANYAR — Aktivitas melaut nelayan di pesisir selatan Bali terganggu akibat kelangkaan BBM bersubsidi jenis Pertalite. Di Kabupaten Gianyar, salah satu daerah yang paling terdampak, para nelayan mengaku kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk kapal mereka.
Ketua Kelompok Nelayan Desa Lebih, I Made Ana, mengungkapkan bahwa rekomendasi pembelian Pertalite dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan Gianyar hanya sebesar 10 liter per nelayan. Padahal, kebutuhan untuk sekali melaut mencapai 40 liter.
"Selisih itu membuat kami terpaksa membeli Pertamax yang harganya lebih tinggi. Biaya operasional melaut membengkak," ujar I Made Ana.
Anggota DPR RI I Nyoman Parta menduga kelangkaan ini dipicu oleh perubahan pola konsumsi masyarakat. Setelah harga Pertamax naik, banyak pengguna kendaraan beralih ke Pertalite, sehingga beban subsidi membengkak dan pasokan untuk nelayan serta petani berkurang.
"Saya menemukan stok Pertalite kosong saat meninjau SPBU di Gianyar. Ini bukan hanya soal distribusi, tapi juga perubahan perilaku konsumen yang perlu diantisipasi," kata Nyoman Parta.
Ia menerima laporan serupa dari Kabupaten Karangasem dan Buleleng. Di dua daerah itu, nelayan juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan Pertalite.
I Made Ana berharap pemerintah segera menambah kuota Pertalite untuk nelayan di Gianyar. Ia juga meminta distribusi BBM bersubsidi dipastikan berjalan lancar agar pasokan tetap tersedia bagi mereka yang berhak.
"Kami tidak ingin setiap kali melaut harus pusing memikirkan bensin. Harus ada solusi jangka panjang," tegasnya.
Nyoman Parta mendesak Pertamina dan pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap rantai distribusi BBM subsidi. Ia menekankan agar kelangkaan serupa tidak terus berulang, terutama di daerah yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan pertanian.