Duta Klungkung Tampil Memukau di PKB 2026, Ny. Eva Satria Apresiasi Inovasi Sekaa Gong Wanita Wakul Mas

Penulis: Zulfikar Ahmad  •  Selasa, 30 Juni 2026 | 13:15:01 WIB
Sekaa Gong Wanita Wakul Mas tampil inovatif dengan perpaduan gong kebyar dan angklung bambu di PKB 2026.

DENPASAR — Sekaa Gong Kebyar Wanita Wakul Mas (Wadon Klungkung Mesikian) membuktikan diri sebagai salah satu penampil paling inovatif di PKB tahun ini. Tampil dalam format mebarung bersama Duta Kabupaten Tabanan, grup asal Desa Adat Bakas, Banjarangkan, ini menyuguhkan tiga materi pementasan yang memadukan tradisi dan eksperimen musikal.

Gubernur Bali Wayan Koster turut menyaksikan langsung pergelaran seni yang berlangsung semarak tersebut. Apresiasi tinggi datang dari Ny. Eva Satria yang memuji penampilan generasi muda wanita Bumi Serombotan.

Tabuh Kreasi “Tedung Oncer”: Perpaduan Gong Kebyar dan Angklung Bambu

Pementasan dibuka dengan Tabuh Kreasi berjudul “Tedung Oncer”. Karya instrumental ini menjadi pembeda karena sang penata tabuh berani memadukan instrumen gong kebyar klasik dengan angklung bambu atau angklung kocok.

Sinergi kreatif itu berhasil menciptakan impresi musikal yang segar. Jalinan melodi, ritme, tempo, dan dinamika alunan nada yang ritmis menjadi daya tarik utama sajian pertama ini.

Tari Kreasi “Ngampung”: Mengangkat Tradisi Petani Klungkung

Memasuki pementasan kedua, penonton disuguhkan Tari Kreasi “Ngampung”. Istilah ngampung merupakan kosakata lokal yang identik dengan aktivitas manyi atau memanen padi.

Tradisi agraris yang hingga kini masih ajeg digunakan masyarakat petani di pelosok desa Klungkung ini diangkat menjadi koreografi indah. Gerakan tari menggambarkan suka cita dan kerja keras para petani di sawah saat memetik bulir-bulir padi ranum sebagai berkah kehidupan.

Sandya Gita “Bayuh Baya”: Makna Spiritual di Balik Ritual Hindu

Sebagai pamungkas, Duta Klungkung mempersembahkan Sandya Gita bertajuk “Bayuh Baya”. Secara etimologi, kata bayuh berarti membayar (membayah), sedangkan baya berarti bahaya atau ancaman.

Karya seni kontemporer ini lahir dari inspirasi mendalam terhadap laku hidup masyarakat Hindu di Bali. Mereka senantiasa berupaya menyeimbangkan energi spiritual dalam diri (bhuana alit) dan alam semesta (bhuana agung) melalui ritual keagamaan.

Proses upacara pabayuhan atau mebayuh merupakan tradisi sakral yang sering dijumpai. Ritual ini sarat makna simbolis dan pancaran energi yang diyakini memberikan perlindungan, kesejahteraan, serta keharmonisan spiritual bagi umat.

Reporter: Zulfikar Ahmad
Sumber: letternews.net This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top