DENPASAR — Tiga materi yang dibawakan meliputi Tabuh Kreasi Pepanggulan berjudul Bayung Bidak, Tari Kreasi Adnyaswari, dan Tari Dolanan bertajuk Jong Jang Sir. Ketiganya mendapat sambutan meriah dari puluhan ribu penonton yang memadati area pertunjukan.
Konseptor dan penggarap Sanggar Rajapala, I Made Ariawan, menjelaskan bahwa Bayung Bidak merangkum spirit ngangkid—sebuah upacara tradisional untuk bayi berusia tiga bulan. "Bayung berarti penyeimbang dan bidak atau layar sebagai penentu arah menjadi dua poros utama, keseimbangan batin dan arah spiritual yang menuntun perjalanan sejak mula," ujarnya.
Garapan ini terinspirasi dari miniatur jukung atau perahu sebagai simbol menyeberangi lautan samsara. Alunan musik dimulai dari hening yang suci, menggambarkan jiwa yang baru turun, lalu meledak menjadi energi kebyar saat layar terkembang. "Di tengah riuhnya perjalanan, bayung menjaga agar tidak goyah, sementara bidak mengarahkan menuju tujuan yang selaras dengan Dharma," tegas Made Ariawan.
Tari Adnyaswari berarti petugas atau pelayan wanita yang diwujudkan dalam bentuk tarian penyambutan tamu kehormatan. Gerakannya diawali dengan simbol pengastungkara, dilanjutkan gerakan lemah gemulai yang dinamis, dan diakhiri dengan paramasanti.
Menurut Made Ariawan, tarian ini identik dengan permainan sampur atau selendang yang memperlihatkan kesiapan dan kecantikan penari. Iringannya menggunakan gamelan gong kebyar dengan struktur pepeson, pengawak, pengecet, dan pekaad. Tari Adnyaswari pertama kali dibawakan pada Pesta Seni tahun 1998 oleh Sekeha Gong Dharma Putra Banjar Guming, Penarungan, Mengwi, Badung. Tarian ini diciptakan oleh Dr. Ida Ayu Wimba Ruspawati, S.ST, M.Sn., dengan iringan dari almarhum I Wayan Sinti, MA.
Tari Dolanan Jong Jang Sir memiliki makna filosofis yang dalam. "Jong berarti perahu, jang berarti taruh atau lepaskan, dan sir diambil dari bahasa Jawa Kuno pasir yang berarti pantai," jelas Made Ariawan. Perahu kecil ini, katanya, sering digunakan dalam upacara ngangkid—sebuah ritual penyucian atman bagi anak yang berusia tiga bulan.
"Upacara ini ngutang mala nuduk hayu yaitu membuang yang buruk dan mengambil yang baik," ujarnya. Ia mengibaratkan perahu kecil itu sebagai perjalanan hidup yang mengarungi luasnya samudra kehidupan. "Perahu ini bukan hanya menjadi sebuah permainan, bukan juga hanya sebagai sarana upacara, tetapi ini juga menjadi sebuah wadah harapan dan keinginan yang dititipkan ke dalam sebuah pesan," tegasnya.
Made Ariawan mengungkapkan bahwa persiapan pementasan telah berlangsung sejak Maret 2026. Ia berharap penampilan duta Badung dan Gianyar bisa berjalan lancar. "Kami di Badung menampilkan sesuatu yang berkait dengan PKB yakni Atma Kerthi," katanya.
Atma Kerthi, menurutnya, bukan hanya ajaran memaknai kematian, tetapi bagaimana cara menghargai kehidupan, menyayangi diri sendiri, dan selalu menjaga kesucian atman dalam diri. Tema ini menjadi benang merah dari ketiga karya yang dibawakan oleh para penari cilik asal Badung tersebut.