DENPASAR — Pemerintah Provinsi Bali memastikan ketersediaan bahan pokok tetap aman selama perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Sekretaris Daerah (Sekda) Bali Dewa Made Indra menginstruksikan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk terus memantau pasar hingga beberapa hari setelah puncak hari raya. Langkah ini bertujuan mengantisipasi kepanikan masyarakat yang bisa memicu lonjakan harga.
Periode hari raya umat Hindu ini dimulai dari Hari Penampahan Galungan pada Selasa (16/6) dan diakhiri Umanis Kuningan pada Minggu (28/6). Masyarakat Bali sudah mulai berbelanja kebutuhan pokok, daging, bumbu dapur, elpiji, hingga sarana upacara seperti bahan banten dan penjor.
Salah satu strategi mengantisipasi lonjakan harga adalah memanfaatkan surplus stok di daerah sentra produksi. Sekda Dewa Made Indra mencontohkan, Kabupaten Buleleng memiliki ketersediaan cabai mencapai 76,48 ton dengan kebutuhan hanya sekitar 5,34 ton. Begitu pula bawang merah sebanyak 145,93 ton dengan kebutuhan 5,93 ton, serta bawang putih 191,42 ton dengan kebutuhan 9,52 ton.
“Kelebihan stok ini dapat dikolaborasikan dengan kabupaten lain yang mengalami kekurangan. Dengan demikian, distribusi berjalan lancar dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Sekda Dewa Made Indra dalam keterangan di Denpasar, Kamis.
Pemantauan, kata dia, harus terus dilakukan hingga setelah Hari Raya Kuningan. Hal ini untuk memastikan tidak terjadi penimbunan atau kelangkaan barang di lapangan yang bisa memicu panic buying.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani menyampaikan data bahwa hingga Mei 2026, tingkat inflasi Bali tercatat sebesar 2,99 persen. Menurutnya, perbedaan kondisi ketersediaan dan kebutuhan komoditas di masing-masing daerah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat inflasi.
Ia menekankan pentingnya pengawasan langsung di lapangan, khususnya terhadap komoditas strategis seperti beras, cabai, bawang, gula pasir, daging, serta LPG 3 kilogram. “Kita wajib menginformasikan secara luas bahwa ketersediaan kebutuhan masyarakat dalam kondisi aman. Dengan demikian, masyarakat tidak melakukan panic buying yang berpotensi menimbulkan penimbunan,” tegas Sekda.
Pemprov Bali juga memastikan distribusi kebutuhan masyarakat berjalan lancar, tepat sasaran, dan mudah diakses selama periode libur panjang. Untuk itu, koordinasi antar-TPID di seluruh kabupaten/kota se-Bali terus diperkuat. Apabila suatu daerah mengalami keterbatasan stok komoditas tertentu, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui kerja sama dengan daerah lain yang memiliki cadangan stok memadai.