BALI — Keri Russell membuktikan kelas aktingnya lewat Felicity Porter, karakter yang membuat penonton 90-an merasa ikut kuliah bersamanya. Empat musim drama remaja ini resmi masuk Netflix lewat kesepakatan baru dengan Disney, dan masih layak ditonton generasi sekarang.
Kesepakatan anyar antara Netflix dan Disney membawa seluruh empat musim Felicity ke katalog streaming, membuka akses bagi penonton yang dulu melewatkannya di era jaringan TV. Penulis Tom's Guide mengenang pengalaman pribadinya menonton serial ini saat kuliah pada awal 2000-an, bahkan menulis "Felicity Porter '02" di laci meja asrama sebagai penghormatan sebelum lulus.
Drama ini tayang hampir 25 tahun lalu, tapi daya tariknya tidak luntur oleh waktu. Yang membuatnya bertahan bukan premisnya yang sederhana, melainkan cara serial ini membangun karakter dengan sabar di sepanjang musim yang panjang.
Premis Konyol yang Dieksekusi dengan Jujur
Felicity dimulai dari konsep yang terdengar seperti bahan komedi romantis murahan. Di hari kelulusan SMA, Felicity memberanikan diri meminta Ben Covington menandatangani buku tahunan. Pria populer itu menulis catatan tulus bahwa ia selalu menyesal tak mengenalnya lebih baik.
Berdasarkan satu momen kecil itu, Felicity membatalkan rencana kuliah di Stanford dan mengikuti Ben ke New York City. Keputusan yang mengabaikan rencana orang tuanya ini jadi titik tolak seluruh cerita.
Kreator J.J. Abrams dan Matt Reeves menahan godaan untuk menjadikannya lelucon cringe. Mereka membiarkan hubungan Felicity dan Ben tumbuh sebagai sesuatu yang manis sekaligus rumit, bukan sekadar komedi situasi.
Segitiga Cinta yang Bukan Sekadar Perebutan Pria
Selama empat musim, Felicity bolak-balik antara Ben dan Noel Crane yang diperankan Scott Foley. Penonton terbelah jadi Team Ben dan Team Noel, tapi sudut pandang yang paling menarik justru berpihak pada Felicity sendiri.
Ben dan Noel bukan sekadar objek kasih sayang. Keduanya punya ambisi dan kelemahan masing-masing yang digarap serius. Hal yang sama berlaku untuk lingkaran pertemanan Felicity: Julie Emrick yang musisi, Elena Tyler yang ambisius di bidang kedokteran, dan Meghan Rotundi yang berlatarbelakang Wiccan.
Kehadiran Keri Russell jadi alasan utama semua ini bekerja. Felicity Porter disebut sebagai salah satu karakter TV terbaik dalam 30 tahun terakhir, sosok yang menawan, canggung, terbuka, dan setia pada teman-temannya.
Kekuatan di Hal-Hal Sederhana
Abrams dan Reeves memang kemudian meraih sukses besar di genre lain, tapi Felicity justru kuat saat menangani hal-hal biasa. Format musim panjang yang tidak lagi lazim di era streaming memberi ruang bagi karakter untuk membuat kesalahan, bertemu orang baru, jatuh cinta, putus, dan kembali lagi.
Beberapa momen paling diingat termasuk episode dua bagian di musim pertama tentang sosok dari masa lalu Felicity, episode musim kedua yang digarap dengan gaya hitam-putih ala The Twilight Zone, dan lima episode terakhir yang membawa Felicity kembali ke masa lalu untuk memilih antara Ben dan Noel.
Serial ini sesekali terjebak melodrama, terutama di alur musim ketiga soal penembakan di pesta Natal. Tapi sebagian besar waktunya, Felicity tetap berpegang pada emosi sederhana yang mudah dirasakan penonton.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menonton
- Beberapa pengalaman kuliah Felicity terasa kuno bagi penonton masa kini, terutama soal teknologi dan budaya kampus era 90-an
- Format 22 episode per musim bisa terasa lambat bagi yang terbiasa dengan serial streaming berdurasi pendek
- Alur akhir musim ketiga dan keempat sempat menuai kritik karena dianggap terlalu jauh dari akar cerita realistisnya
- Kesepakatan Netflix-Disney ini bersifat lisensi, jadi ketersediaan judul bisa berubah tergantung perpanjangan kontrak
Bagi penonton yang tumbuh bersama Felicity, kehadirannya di Netflix memberi alasan untuk kembali. Bagi yang belum pernah menonton, cerita tentang tumbuh dewasa dan mencari jati diri ini tetap relevan, siap ditemukan generasi baru.