DENPASAR — Rombongan menempuh perjalanan darat sekitar tiga jam dari kediaman Gubernur Bali menuju laut Cekungan Bawang. Setibanya di lokasi, mereka mengikuti doa bersama dan prosesi adat sebagai pembuka kegiatan survei seismik laut dalam di sejumlah wilayah kerja migas. Djoko menyebut prosesi itu sebagai bagian dari penghormatan terhadap kearifan lokal sekaligus ikhtiar memohon keselamatan dan kelancaran eksplorasi.
Doa telah dimulai sejak malam sebelumnya di pura-pura terdekat. Rangkaian dilanjutkan di tepi pantai Cekungan Bawang hingga ke laut, dipimpin pemuka agama setempat bersama Gubernur Bali. Prosesi berlangsung tepat ketika industri migas bersiap menjalankan pekerjaan berteknologi tinggi di bawah permukaan laut.
Berapa Panjang Survei Seismik di Tiga Wilayah Kerja?
Di WK Agung-1, survei 3D direncanakan sepanjang sekitar 1.800 kilometer. WK Barong akan menjalani survei 3D sekitar 1.857 kilometer, sementara WK Agung-2 menjalani survei 2D sekitar 285 kilometer. SKK Migas sebelumnya menyebut nilai investasi pengadaan data seismik mencapai lebih dari US$42,7 juta.
Kapal-kapal survei nantinya merekam struktur geologi di bawah dasar laut dengan teknologi seismik. Data yang dicari bukan sekadar gambar, melainkan petunjuk bagaimana lapisan batuan tersusun, di mana kemungkinan terdapat perangkap hidrokarbon, dan seberapa menarik suatu struktur untuk ditindaklanjuti dengan pengeboran eksplorasi.
bp dan INPEX Berbagi Porsi 50:50 di WK Agung
Eksplorasi ini mempertemukan dua nama besar industri migas dunia. bp menjadi operator berpartner dengan INPEX dari Jepang. Komposisi kepemilikan di WK Agung I dan II kini menjadi 50 persen bp dan 50 persen INPEX setelah persetujuan pengalihan participating interest pada September 2026.
Keduanya membawa pengalaman panjang dalam eksplorasi laut dalam. Bagi Indonesia, masuknya modal, teknologi, dan keberanian mengambil risiko eksplorasi dinilai penting ketika wilayah-wilayah baru harus terus dibuka untuk menjaga kesinambungan sumber daya migas nasional.
Mengapa Seismik Jadi Kunci Sebelum Satu Sumur Dibor?
Eksplorasi laut dalam bukan pekerjaan murah dan sederhana. Sebelum satu sumur dibor, perusahaan harus lebih dulu mengurangi ketidakpastian bawah permukaan melalui data geologi dan geofisika. Seismik menjadi salah satu kunci untuk melakukan itu.
Harapannya sederhana, tetapi taruhannya besar: mendapatkan data subsurface yang berkualitas. Dari data itulah keputusan berikutnya lahir, mulai dari apakah struktur bawah laut cukup menarik untuk dibor, apakah terdapat indikasi hidrokarbon, hingga seberapa besar potensinya. Semua pertanyaan itu baru bisa dijawab setelah data seismik selesai diperoleh dan diinterpretasikan.
Potensi Gas 1–7 TCF Masih Sebatas Perkiraan Awal
Sejumlah publikasi sebelumnya memperkirakan potensi gas di WK Agung I dan II berada pada kisaran 1–7 TCF. Angka tersebut masih merupakan potensi awal dan bukan cadangan terbukti. Jika data seismik memberikan hasil positif, tahapan berikutnya dapat mengarah pada pengeboran eksplorasi untuk membuktikan keberadaan hidrokarbon secara langsung.
Prosesi di pesisir Bali dihadiri jajaran pimpinan industri dan pemerintah. Hadir antara lain pimpinan tertinggi bp Asia Pacific, GM bp Indonesia, Presiden Direktur INPEX, Kepala SKK Migas, Deputi Eksplorasi beserta jajaran, serta Pemerintah Provinsi Bali.
“Memohon restu dan ridho kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, pemilik laut dan seisinya alam semesta,” kata Djoko seperti diceritakan kepada ruangenergi.com.
Bagi masyarakat Bali, laut bukan sekadar ruang geografis. Karena itu, sebelum teknologi modern bekerja membaca struktur bumi di bawahnya, manusia lebih dahulu datang dengan doa. Ada harapan agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, lancar, dan selamat.
“Lifting Naik: BISA, BISA, BISA,” ujar Djoko memberi penyemangat kepada seluruh tim.