BALI — Sejumlah CEO teknologi besar mulai mengganti istilah "AI" dengan "superintelligence" di panggung publik, meski klaim itu belum punya bukti terukur. Perdebatan ini penting bagi pengguna yang membayar puluhan juta rupiah untuk produk AI, karena label besar bisa mengubah cara kita mempercayai sebuah sistem.
Perubahan bahasa terjadi di tingkat paling atas industri. Pada panggilan pendapatan kuartal ketiga, CEO Meta Mark Zuckerberg dan CEO Tesla sekaligus SpaceX Elon Musk memakai istilah "superintelligence" alih-alih "AI", sekitar sebulan setelah Presiden Trump memerintahkan lembaga federal mengganti istilah artificial intelligence menjadi super intelligence. Sementara itu, CEO Microsoft, Amazon, dan Alphabet tetap bertahan dengan "AI".
Laporan CNBC yang dikutip Tom's Guide menyoroti pergeseran ini. Apa pun motif di baliknya, entah penyelarasan dengan Gedung Putih, pemasaran, atau keyakinan tulus, istilah "superintelligence" layak diperiksa karena membawa janji yang justru menguntungkan pihak yang memakainya.
Secara umum, superintelligence menggambarkan AI yang jauh melampaui kemampuan intelektual manusia di berbagai bidang. Klaim itu sangat besar, jauh melebihi kemampuan menulis esai cepat atau mengalahkan seseorang dalam satu tes tertentu.
Keluasan cakupan adalah inti persoalannya. Kalkulator bisa mengalahkan manusia dalam aritmetika tanpa menjadi lebih cerdas secara bermakna. Sistem AI yang unggul di satu domain belum membuktikan kemampuannya menerapkan penilaian serupa di bidang lain.
Sebelum menerima label itu, pertanyaan yang harus diajukan: apa yang diukur, siapa yang mengevaluasi, dan apakah hasilnya bertahan di luar kondisi yang sengaja dipilih untuk demonstrasi.
Perusahaan bebas mengejar superintelligence, membiayai riset besar-besaran, dan menjelaskan alasannya. Namun menggambarkan ambisi berbeda dengan membuktikan pencapaian, dan pembaca berhak mendapat bahasa yang jelas membedakan keduanya.
Klaim yang lebih besar menuntut bukti yang lebih baik. Jika seorang eksekutif menyatakan perusahaannya sedang menuju superintelligence, judul berita semestinya menegaskan bahwa itu masih tujuan, bukan kenyataan. Prediksi tentang apa yang mungkin dilakukan AI di masa depan tidak boleh berubah menjadi klaim tentang apa yang bisa dipakai hari ini.
Bagi seseorang yang memutuskan apakah akan mengandalkan chatbot, kata "superintelligence" membawa sugesti konsekuensial: bahwa sistem tahu lebih baik daripada dirinya. Hal itu bisa memengaruhi seberapa teliti ia memeriksa jawaban, seberapa besar otoritas yang diberikan pada saran, atau seberapa rela ia membiarkan sistem bertindak atas namanya.
AI yang berguna tidak memerlukan janji semacam itu. Label peringatan bahwa chatbot bisa salah justru sudah terpasang di sebagian besar produk sekarang. Asisten bisa membantu menyusun riset atau memahami dokumen tanpa dipresentasikan sebagai lebih unggul dari manusia.
Konsumen membutuhkan informasi spesifik: seberapa baik produk bekerja, di mana kesalahannya, dan bagian mana yang butuh peninjauan manusia. Istilah "superintelligence" tidak menyediakan satu pun dari itu.
Skeptisisme terhadap kata itu tidak berarti menolak teknologinya. AI bisa meningkat, menjadi lebih berguna, dan mengubah cara orang bekerja, sementara deskripsi perusahaan tentangnya tetap layak dipertanyakan. Kemungkinan superintelligence di masa depan juga tidak boleh diperlakukan sebagai bukti kedatangannya.
Eksekutif berhak membuat ramalan. Namun bagi pembaca yang membayar produk-produk ini, ujian yang berguna tetap konkret: apakah alat itu melakukan yang dibutuhkan, apakah hasilnya bisa diperiksa, dan apakah pengguna punya kendali cukup atas tindakannya. Menambahkan kata "super" tidak menjawab satu pun pertanyaan itu.