Survei LPEM UI: 52% Ekonom Nilai Ekonomi RI Memburuk, Inflasi Masih Tinggi

Penulis: Candra Setiabudi  •  Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:48:31 WIB
Survei LPEM FEB UI mencatat 52% ekonom menilai kondisi ekonomi Indonesia memburuk dibandingkan tiga bulan sebelumnya.

BALI — Sebanyak 33 dari 63 ekonom (52%) menilai kondisi ekonomi Indonesia memburuk dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Penilaian itu tertuang dalam Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026 yang dirilis LPEM FEB UI, dengan tekanan inflasi dan penciptaan lapangan kerja jadi sorotan utama.

Survei yang digelar secara daring pada 21 September hingga 13 Oktober 2026 itu melibatkan 63 ahli dari kalangan akademisi, lembaga penelitian, lembaga pemikir, sektor swasta, hingga organisasi multinasional. Dari jumlah tersebut, 29 ahli (46%) menilai kondisi ekonomi lebih buruk dan empat ahli (6%) menilai jauh lebih buruk.

Hanya lima ahli (8%) yang melihat kondisi ekonomi membaik, sementara 25 ahli (40%) menilai tidak ada perubahan. Tidak ada satu pun responden yang menilai kondisi ekonomi jauh lebih baik.

Rata-rata penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini tercatat minus 0,51, turun dari minus 0,39 pada survei Semester I 2026. Meski demikian, LPEM FEB UI menegaskan perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik.

Tekanan Inflasi Dinilai Masih Tinggi oleh 78% Responden

Sebanyak 49 dari 63 ahli (78%) menilai tekanan inflasi terhadap perekonomian Indonesia saat ini tinggi. Rinciannya, 44 ahli (70%) menilai tinggi dan lima ahli (8%) menilai sangat tinggi.

Sebanyak 13 ahli (21%) bersikap netral, sedangkan satu ahli (2%) menilai tekanan inflasi rendah. Tidak ada responden yang menilai tekanan inflasi sangat rendah.

Rata-rata penilaian terhadap tekanan inflasi tercatat positif 0,84, naik dari positif 0,71 pada Semester I 2026. Sama seperti indikator ekonomi, perubahan ini tidak signifikan secara statistik.

Penciptaan Lapangan Kerja Jadi Satu-satunya Indikator yang Berubah Signifikan

Penilaian terhadap pasar tenaga kerja paling tertekan. Sebanyak 46 dari 63 ahli (73%) menilai penciptaan lapangan kerja saat ini lebih rendah dibandingkan enam bulan lalu.

Dari jumlah itu, 30 ahli (48%) menilai lebih rendah dan 16 ahli (25%) menilai jauh lebih rendah. Sebanyak 15 ahli (24%) menilai tidak berubah, dan hanya dua ahli (3%) yang melihat penciptaan lapangan kerja lebih tinggi.

Rata-rata penilaian kondisi pasar tenaga kerja anjlok dari minus 0,55 pada Semester I 2026 menjadi minus 0,95 pada Semester II 2026. LPEM FEB UI mencatat ini sebagai satu-satunya perubahan yang signifikan secara statistik di antara indikator persepsi ekonomi saat ini.

Ekspektasi Inflasi Tetap Naik Meski Proyeksi Melandai

Untuk tiga bulan mendatang, 33 ahli (52%) memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi tidak berubah dari angka terbaru. Sebanyak 21 ahli (33%) memperkirakan pertumbuhan melambat, dan sembilan ahli (14%) melihat pertumbuhan melaju.

Pada sisi inflasi, 38 dari 63 ahli (60%) memperkirakan tekanan inflasi sebulan ke depan lebih tinggi. Sebanyak 22 ahli (35%) memperkirakan tidak berubah, dan tiga ahli (5%) memperkirakan lebih rendah.

Rata-rata ekspektasi tekanan inflasi turun dari positif 0,91 pada Semester I 2026 menjadi positif 0,60 pada Semester II 2026. Penurunan ini signifikan secara statistik, meski arah penilaian masih menunjukkan ekspektasi kenaikan tekanan inflasi.

Apa Artinya bagi Pelaku Pasar dan Dunia Usaha

Kombinasi persepsi ekonomi yang memburuk, tekanan inflasi yang tinggi, dan penciptaan lapangan kerja yang melemah memberi sinyal hati-hati bagi investor dan pelaku usaha. Daya beli masyarakat berpotensi tertekan jika inflasi bertahan di level tinggi.

Bagi emiten di sektor konsumsi, pelemahan lapangan kerja menjadi risiko terhadap volume penjualan. Sementara itu, ekspektasi inflasi yang masih positif menjaga kemungkinan bank sentral mempertahankan sikap hati-hati dalam pelonggaran kebijakan moneter.

LPEM FEB UI menekankan bahwa sebagian besar perubahan indeks persepsi tidak signifikan secara statistik. Namun arah penilaian yang konsisten negatif di tiga indikator utama menunjukkan tekanan terhadap perekonomian belum sepenuhnya mereda.

Reporter: Candra Setiabudi
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top