BANGLI — Kenaikan konsumsi air bersih pelanggan PDAM Bangli itu disampaikan Kabag Teknik Perumda Air Minum Tirta Danu Arta, I Wayan Gunawan. Menurutnya, lonjakan dipicu tingginya kebutuhan harian warga serta pemanfaatan air PDAM untuk aktivitas pertanian.
"Kalau pada musim hujan rata-rata pemakaian air berada di angka 15 meter kubik per pelanggan setiap bulannya, dalam empat bulan terakhir ini melonjak menjadi rata-rata 20 meter kubik per pelanggan per bulan," ujar Gunawan, Selasa (20/10).
Kenaikan konsumsi memperparah keterbatasan pasokan yang sudah berlangsung lama. Kapasitas produksi PDAM Bangli rata-rata 34 liter per detik per hari. Angka itu secara ideal hanya cukup memenuhi kebutuhan sekitar 2.700 Sambungan Rumah (SR).
Sementara jumlah pelanggan di Kintamani bagian atas mencapai 5.000 SR. Selisih antara kapasitas produksi dan jumlah pelanggan membuat PDAM menerapkan pengaliran air secara bergilir. Pelanggan pun tidak bisa menikmati pasokan air 24 jam.
Selama kemarau, keterbatasan pasokan kian terasa. Warga yang biasanya mendapat giliran air kini harus menunggu lebih lama karena volume pemakaian tiap rumah meningkat.
Gunawan menyebut solusi optimal pelayanan di Kintamani adalah pengembangan sumber air baru di Mata Air Kutalambi, Desa Bunutin. Namun pengembangan itu membutuhkan investasi dengan anggaran besar.
Sebagai langkah jangka pendek, PDAM berencana menambah satu unit pompa di sumber Mata Air Pebini untuk meningkatkan kapasitas produksi. Penambahan pompa tidak bisa langsung dilakukan karena harus melalui proses peningkatan daya di PLN terlebih dahulu.
"Untuk menambah pompa kami butuh proses karena terlebih dahulu harus meningkatkan data PLN. Dengan penambahan satu pompa ini paling tidak bisa meningkatkan kapasitas produksi lagi 10-15 liter per detik," jelasnya.
Penambahan pompa itu diharapkan sedikit meringankan tekanan pasokan di Kintamani bagian atas. Namun tanpa sumber air baru, ketimpangan antara kapasitas produksi dan jumlah pelanggan akan tetap membayangi layanan PDAM Bangli setiap musim kemarau.