SINGARAJA — Kepala Disbudpar Buleleng Nyoman Wisandika membuka langsung pameran tersebut pada Selasa, 20 Oktober 2026. Seluruh materi yang dipamerkan bersumber dari koleksi lontar Gedong Kertya, bukan dari luar koleksi lembaga itu.
Wisandika menjelaskan kawisesan sebagai pengetahuan tradisional yang berkaitan dengan kekuatan batin, kesaktian, dan pemberdayaan diri. Namun ia menegaskan isi lontar kawisesan tidak berhenti pada soal kekebalan atau kekuatan semata.
"Kawisesan, kalau kita lihat artinya itu, semacam pengetahuan atau ilmu kebatinan. Dalam tradisional Bali, itu bisa di sana kekuatan, kesaktian, dan juga pemberdayaan diri," ujarnya usai membuka pameran.
Pameran menampilkan lontar dan rerajahan kawisesan yang berkaitan dengan pengasih-asih, pematuh, pengiwa, hingga mantra penerangan. Pengunjung juga dapat melihat jajimatan dan sejumlah naskah lain yang merekam pengetahuan tradisional masyarakat Bali.
Menurut Wisandika, pemahaman soal kawisesan perlu dilihat berdasarkan isi masing-masing naskah. Cakupan pengetahuan dalam lontar beragam dan tidak terbatas pada aspek kekuatan.
"Kawisesan itu bukan hanya untuk kekuatan. Tetapi juga ada di sana ada penerang sesuai dengan lontar masing-masing," kata dia.
Kepala UPTD Gedong Kertya Dewa Ayu Putu Susilawati menyebut ada sekitar 10 hingga 15 lontar terkait kawisesan dalam koleksi. Dari jumlah itu, penyelenggara memilih tujuh naskah yang dinilai mewakili beragam kategori pengetahuan.
Naskah yang dipilih antara lain berkaitan dengan pematuh, pengiwa, pengakas, pewilas, penerang, dan pengujan. Pemilihan mempertimbangkan keterwakilan isi serta pengetahuan yang sudah dikenal masyarakat.
"Yang kita tampilkan tujuh, mungkin ada sekitar 10 apa 15 terkait kawisesan. Tetap tidak bisa juga kita tampilkan semua karena memang ada juga yang mirip-mirip. Kita memilih yang memang mewakili dan di masyarakat itu juga dikenal," terangnya.
Koleksi yang dipamerkan memperlihatkan pembagian kawisesan dalam pemahaman tradisional Bali, yakni kategori kanan dan kiri. Kategori kanan meliputi naskah penerang, pengujan, Pematuh Agung, serta lontar yang berkaitan dengan penanaman ari-ari.
Kategori kiri mencakup pengakas, pengeger, dan pengiwa. Pembagian itu diperkenalkan lewat naskah yang dipilih agar pengunjung dapat mengenali ragam pengetahuan kawisesan yang tercatat dalam koleksi lontar.
"Kalau yang kanan itu kan ada penerang, pengujan, Pematuh Agung, terus untuk nanam ari-ari. Kalau yang kiri kita tampilkan ada pengakas, pengeger, pengiwa juga kita keluarkan," kata Susilawati.
Penyelenggara menyediakan terjemahan lontar untuk membantu pengunjung memahami isi naskah. Fasilitas itu memungkinkan masyarakat mengenali kandungan pengetahuan dalam naskah, tidak hanya melihat bentuk fisik maupun aksara yang digunakan.
Susilawati menyebut pameran bertujuan memperkenalkan kawisesan sebagai bagian dari kearifan lokal dan warisan budaya Bali. Masyarakat dinilai perlu memahami pengetahuan tradisional secara bijaksana, termasuk saat menjumpai pandangan berbeda mengenai kawisesan.
"Pemahaman kami bahwa pada prinsipnya kawisesan itu adalah kearifan lokal atau warisan budaya. Perkara ada hitam atau putih atau kanan kiri itu kan kembali ke personal. Kami berharap bahwa dengan kita tampilkan ini, masyarakat bisa memahami secara bijak seperti apa," kata dia.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak serta-merta menganggap pengetahuan yang tercatat dalam lontar sebagai sesuatu yang tabu. Pengenalan warisan budaya melalui pameran dinilai dapat membangun pemahaman berdasarkan pengetahuan, tanpa mengabaikan sikap bijaksana.
Pameran di Museum Sunda Ketjil itu berlangsung hingga 26 Oktober 2026. Wisandika menegaskan memperkenalkan koleksi kepada publik merupakan bagian dari tanggung jawab museum.
"Tugas museum adalah memamerkan koleksi yang dimiliki. Kalau tidak gitu, bukan tugas museum artinya," ucapnya.