JIMBARAN — Forum MUSDA XV ASITA Bali 2026 menjadi titik balik cara asosiasi agen perjalanan wisata memandang keberhasilan industri. Selama ini jumlah kunjungan jadi ukuran utama, kini tidak lagi. Winastra menegaskan bahwa kunjungan wisatawan harus dipastikan memberi dampak ekonomi bagi warga lokal, memperkuat pelestarian budaya, serta menjaga kualitas lingkungan dan destinasi.
Perubahan orientasi dinilai mendesak di tengah perkembangan teknologi, pergeseran perilaku wisatawan, dan tuntutan kualitas pengalaman yang makin tinggi. Winastra menyebut pendekatan regenerative tourism atau pariwisata regeneratif perlu mendapat porsi lebih besar.
Konsep itu tidak berhenti pada menekan dampak negatif pariwisata. Ada dorongan kontribusi positif agar destinasi menjadi lebih baik bagi generasi mendatang.
Winastra memandang agen perjalanan punya posisi strategis menentukan destinasi yang dikunjungi wisatawan, produk yang dibeli, hingga pengalaman yang diperoleh selama di Bali.
Posisi itu bisa dimanfaatkan untuk memperluas manfaat pariwisata lewat kunjungan ke desa wisata, pembelian produk lokal, penghormatan terhadap budaya, dan kegiatan yang mendukung pelestarian lingkungan.
"ASITA bukan hanya dapat menjadi distributor wisatawan, tetapi juga dapat menjadi pengarah perjalanan menuju pariwisata yang lebih bertanggung jawab, lebih bermakna, dan lebih memberikan manfaat bagi destinasi," ujar Winastra.
Menurut Winastra, repositioning bukan berarti meninggalkan fondasi organisasi yang telah dibangun sebelumnya. ASITA perlu memperkuat capaian yang ada dan menyesuaikan strategi dengan perkembangan industri agar tetap relevan.
ASITA Bali juga menempatkan diri sebagai mitra strategis pemerintah dan penghubung antara pelaku industri, masyarakat, akademisi, media, serta pemangku kepentingan lain. Kolaborasi lintas sektor dianggap perlu karena persoalan pariwisata tidak bisa diselesaikan satu pihak.
Pemerintah memegang kewenangan kebijakan, pelaku usaha memahami kebutuhan pasar, sedangkan masyarakat menjadi bagian penting dari kehidupan dan keberlanjutan destinasi.
Asosiasi turut mendorong semangat ASITA Care sebagai bagian dari komitmen terhadap masyarakat, lingkungan, dan sesama. Keberhasilan organisasi, kata Winastra, tidak semata diukur dari pertumbuhan bisnis anggota, tetapi juga manfaat yang diberikan kepada masyarakat dan warisan positif bagi Bali.
Sejumlah program dan jejaring organisasi terus dikembangkan, termasuk Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) yang mempertemukan pelaku industri dengan pembeli dari 44 negara dan menghadirkan lebih dari 1.000 peserta.
ASITA Bali juga menjalin kolaborasi dengan sejumlah destinasi, seperti Monkey Forest Ubud, Jatiluwih, dan Pura Besakih. Kegiatan BALI Tourism Run dan SAKIRA turut digelar sebagai bagian dari rangkaian program organisasi.
Dalam MUSDA tersebut, Winastra menyebut sekitar 63 persen kunjungan wisatawan secara offline turut didorong melalui jaringan dan aktivitas anggota ASITA Bali. Angka itu menjadi pengingat bahwa besarnya peran biro perjalanan harus diikuti tanggung jawab menjaga kualitas pariwisata Bali.
Winastra berharap kepemimpinan ASITA Bali ke depan dapat melanjutkan program yang telah berjalan, memperbaiki kekurangan, memperkuat organisasi, dan meningkatkan manfaat bagi anggota maupun masyarakat.
"Jabatan memiliki batas waktu, tetapi pengabdian tidak pernah memiliki batas," tegasnya.
Melalui MUSDA XV, ASITA Bali menekankan bahwa masa depan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh jumlah wisatawan yang berkunjung. Kemampuan industri menjaga budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat dinilai sama pentingnya agar Bali tetap lestari bagi generasi berikutnya.