DPR Dorong Layanan Kesehatan Bayi dan Balita di Tengah Karhutla

Penulis: Agus Hermawan  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 11:20:01 WIB
Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian meminta pemerintah memperkuat layanan kesehatan bagi bayi dan balita di wilayah terdampak karhutla.

BALI — Kabut asap karhutla memicu 62.400 kasus ISPA pada anak usia 0-5 tahun di tujuh provinsi terdampak per 12 Oktober 2026. Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian meminta pemerintah memperkuat layanan kesehatan, ruang aman berudara bersih, dan perlindungan bagi bayi serta balita di wilayah terdampak.

Kementerian Kesehatan mencatat total 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan. Dari jumlah itu, 22,5 persen atau 62.400 kasus menimpa anak usia 0-5 tahun.

Data tersebut mendorong Hetifah Sjaifudian, Anggota Komisi VIII DPR RI, meminta pemerintah pusat dan daerah bergerak lebih cepat. Ia menilai kondisi karhutla yang berkepanjangan tidak bisa lagi dianggap sebagai situasi biasa.

Ancaman ISPA pada Bayi dan Balita

Kabut asap membuat banyak keluarga tetap harus beraktivitas di luar rumah setiap hari. Kelompok paling rentan adalah bayi dan balita karena sistem pernapasan mereka belum berkembang sempurna.

“Banyak keluarga harus menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kabut asap, sementara kesehatan anak-anak balita ikut terancam. Kita tidak boleh menganggap situasi yang berkepanjangan ini sebagai sesuatu yang biasa,” kata Hetifah di Jakarta, Jumat (16/10/2026), dilansir Antara.

Angka 62.400 kasus ISPA pada anak usia 0-5 tahun menunjukkan dampak kesehatan karhutla sudah masuk ke rumah tangga. Ibu di wilayah terdampak perlu mengenali gejala awal ISPA pada anak, seperti batuk, pilek, demam, dan sesak napas.

Langkah yang Diminta DPR

Hetifah mendesak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengambil langkah lebih aktif. Kemen PPPA diminta berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan pemerintah daerah.

Ada tiga hal yang diminta segera tersedia dan mudah dijangkau keluarga terdampak:

  • Layanan kesehatan untuk bayi dan balita
  • Ruang aman dengan udara bersih
  • Perlindungan bagi kelompok anak usia dini

Sebagai wakil rakyat dari Kalimantan Timur, Hetifah menyoroti dampak karhutla yang dirasakan masyarakat Kalimantan. Ia mendorong pemerintah pusat memperkuat dukungan ke pemerintah daerah agar penanganan karhutla dan dampaknya berjalan lebih cepat.

Respons Kementerian Kesehatan

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan data ISPA terus dipantau untuk mendeteksi peningkatan kasus. Pemantauan ini jadi dasar memperkuat respons kesehatan di lapangan.

Kemenkes bersama pemerintah daerah telah memperkuat pemantauan penyakit, pelayanan kesehatan, kesiapan fasilitas kesehatan, serta distribusi logistik. Per 12 Oktober 2026, tercatat mobilisasi 2.106 tenaga medis dan kesehatan.

Dukungan logistik berupa lebih dari 2,8 juta masker didistribusikan dari berbagai sumber, baik pemerintah pusat maupun daerah. Masker menjadi salah satu pelindung dasar bagi bayi, balita, dan anggota keluarga lain saat kualitas udara memburuk.

Yang Perlu Ibu Lakukan di Wilayah Terdampak

Kalau ibu tinggal di area yang tertutup kabut asap, batasi aktivitas luar ruang anak sedini mungkin. Pilih waktu pagi atau sore saat kualitas udara relatif lebih baik bila memang harus keluar rumah.

Pastikan bayi dan balita mendapat asupan cairan cukup, terutama ASI untuk bayi di bawah dua tahun. Cairan membantu menjaga saluran napas tetap lembap dan mendukung daya tahan tubuh anak.

Gunakan masker yang sesuai ukuran anak bila tersedia, dan jaga ventilasi rumah dengan penyaring udara sederhana. Segera cari bantuan medis jika anak mengalami napas cepat, tarikan dinding dada, atau lemas berkepanjangan.

Keselamatan anak harus menjadi prioritas bersama. Dengan layanan kesehatan yang mudah dijangkau dan ruang aman berudara bersih, bayi serta balita di wilayah terdampak bisa terhindar dari risiko kesehatan akibat bencana yang berkepanjangan.

Reporter: Agus Hermawan
Sumber: suarasurabaya.net This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top