GIANYAR — Perbekel Desa Sanding, Kompiang Ambarayusa, menyatakan Rumah Maggot menjadi tulang punggung sistem pengelolaan sampah organik di wilayahnya. Fasilitas itu memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) untuk mengurai sampah organik rumah tangga, lalu menghasilkan maggot sebagai pakan ternak dan kasgot atau residu hasil pengolahan sebagai pupuk organik.
Menurut Kompiang, anggaran Rp400 juta yang disiapkan pemerintah desa pada 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat penanganan persoalan lingkungan secara lebih terencana. Desa menargetkan sistem yang dibangun dapat menjangkau sekitar 60 hingga 80 persen dari sasaran yang ditetapkan.
Kondisi geografis Desa Sanding yang masih memiliki banyak pekarangan rumah atau tebel menjadi peluang mendorong pengelolaan sampah dari lingkungan masing-masing. Warga didorong memilah sampah agar material yang masih bisa dimanfaatkan tidak tercampur dan berakhir sebagai beban lingkungan.
Edukasi dan pendampingan menyasar perubahan perilaku sehari-hari, bukan sekadar penyediaan fasilitas. Kompiang berharap pengelolaan sampah menjadi kebiasaan warga, tidak bergantung pada perangkat yang dibangun program.
Head Corporate Social Responsibility Maybank Indonesia, Yudhi Sutrisna, menegaskan persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah desa, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, pemerhati lingkungan, dan warga menentukan keberhasilan program.
"Ini tidak mungkin kita lakukan sendiri. Kolaborasi dari desa, pemerintah daerah, teman-teman NGO, pemerhati, dan masyarakat menjadi kunci dari keberhasilan program ini," ujar Yudhi pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Maybank Indonesia berharap inisiatif di Desa Sanding tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang memberi manfaat jangka panjang. Praktik pengelolaan sampah di desa itu diharapkan menginspirasi desa lain di Bali dan daerah lain di Indonesia.
Partnership and Marketing Manager BenihBaik.com, Dodid Kusumadjati, menyebut pihaknya menjembatani inisiatif Maybank Indonesia dengan masyarakat Desa Sanding. Prosesnya dimulai dari komunikasi dan diskusi bersama pemerintah desa serta perwakilan masyarakat untuk menentukan pendekatan yang sesuai kebutuhan setempat.
"BenihBaik.com menjadi jembatan kebaikan ketika inisiasi dari Maybank datang. Kami kemudian menggerakkan dan berdiskusi dengan kepala desa, ketua, serta perwakilan masyarakat mengenai bagaimana mengolah sampah berbasis maggot," ujarnya.
Pelibatan perempuan, generasi muda, dan kelompok rentan turut menjadi perhatian agar manfaat program dirasakan secara inklusif.
World Resources Institute (WRI) Indonesia berperan menginventarisasi emisi gas rumah kaca di Desa Sanding. Bali Engagement Specialist WRI Indonesia, Wayan Robi, menjelaskan inventarisasi diperlukan untuk mengetahui sumber emisi di tingkat desa sekaligus menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi.
Selain sampah, emisi di desa bersumber dari sektor energi, transportasi, dan penggunaan lahan. Wayan menilai Desa Sanding punya peluang membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terencana sebelum potensi pariwisata di wilayah itu meningkat.
"Jangan sampai pariwisatanya duluan ramai, baru kita mengurus sampahnya dan akhirnya bingung," ujarnya.
WRI Indonesia mendorong keterlibatan masyarakat dalam penyusunan peta jalan Desa Sanding menuju netral karbon. Proses itu mencakup pendataan timbulan sampah rumah tangga, pemetaan potensi pengelolaan, pengembangan model bisnis Rumah Maggot, serta penjajakan kerja sama dengan berbagai pihak.
Praktisi lingkungan dan penggiat pertanian organik, I Ketut Punia, mengingatkan pengelolaan sampah tidak seharusnya dimulai ketika sampah sudah menumpuk. Pengurangan perlu dilakukan sejak seseorang memutuskan membeli atau menggunakan suatu produk.
"Lebih baik kita mengimplementasikannya secara benar, lalu mengajak lingkungan sekitar agar lebih sadar bagaimana sebenarnya manajemen pengelolaan sampah yang baik dan benar," pesannya.
Ketut menekankan pentingnya membedakan budidaya maggot dengan pengelolaan sampah organik menggunakan maggot. Fokus utama program harus tetap pada penyelesaian persoalan sampah, bukan semata memperbanyak produksi maggot tanpa memperhitungkan kapasitas pengolahan dan ketersediaan bahan baku.
Keberhasilan pengolahan sampah organik dengan maggot bergantung pada kesesuaian kapasitas fasilitas dengan jumlah sampah yang tersedia. Keberlanjutan operasional fasilitas menjadi penentu apakah sistem di Desa Sanding berjalan konsisten dan memberi manfaat ekonomi bagi pengelola, petani, pembudidaya ikan, serta warga sekitar.