BALI — Barcelona menerapkan sistem rekomendasi wisata ala Netflix untuk mengurai kepadatan di destinasi populer dan mengarahkan turis ke tempat yang lebih sepi. Kota ini menerima sekitar 16 juta kunjungan per tahun, sepuluh kali lipat jumlah penduduknya. Platform bernama This is Barcelona itu menjadi bagian dari strategi baru menghadapi penolakan warga terhadap lonjakan wisatawan.
Dewan pariwisata Barcelona mengganti nama kampanye lama "Visit Barcelona" menjadi "This is Barcelona". Lewat platform itu, wisatawan tidak hanya diajak datang, tetapi juga mendapat rekomendasi tempat dan aktivitas berdasarkan minat masing-masing. Sistem ini mempertimbangkan dua hal sekaligus: preferensi pengguna dan kondisi keramaian suatu kawasan.
Jika Netflix mempelajari kebiasaan menonton untuk menebak film yang disukai pengguna, platform Barcelona membaca minat wisatawan untuk menyusun rekomendasi perjalanan. Bedanya, sistem ini juga memantau situasi di lapangan. Ketika sebuah lokasi sedang padat, wisatawan dapat diarahkan ke tempat lain yang lebih lengang.
Destinasi yang kurang dikenal bahkan bisa muncul lebih tinggi dalam daftar rekomendasi dibandingkan lokasi yang sudah sangat populer. Tujuannya agar wisatawan tidak menumpuk di titik yang sama sepanjang hari.
Wisatawan yang tertarik pada budaya tidak hanya ditawari bangunan karya Antoni Gaudi atau kawasan Gotik yang sudah terkenal. Mereka juga bisa menerima rekomendasi museum, pameran, festival, konser musik klasik, hingga restoran dan bar unik di lokasi lain.
Platform ini turut menyediakan informasi soal sejarah Barcelona, tradisi lokal, transportasi, dan aksesibilitas. Wisatawan juga diingatkan menghormati kehidupan serta tradisi warga setempat, misalnya menjaga ketenangan saat festival kastil berlangsung.
Barcelona lebih dulu menerapkan sejumlah aturan untuk menekan dampak pariwisata. Pembangunan hotel baru di pusat kota dilarang sejak 2015. Pemerintah kota juga berencana menghapus sekitar 10.000 izin akomodasi sewa jangka pendek hingga 2028.
Jumlah terminal kapal pesiar akan dipangkas dari tujuh menjadi lima pada 2029. Pajak wisatawan saat ini mencapai 12 euro atau sekitar Rp 241 ribu per malam, dengan target kenaikan menjadi 15 euro atau sekitar Rp 300 ribu pada 2029.
CEO Barcelona Turisme Mateu Hernandez menilai pembicaraan soal pariwisata di kotanya terlalu lama berfokus pada sisi negatif. Menurut dia, dampak positif juga perlu disorot tanpa dianggap sebagai hal yang otomatis.
"Selama 15 atau 20 tahun terakhir, kami hanya membicarakan dampak negatif pariwisata, dan itu memang benar. Namun, kami juga harus menyoroti dampak positifnya dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah pasti," kata Hernandez.
Ia juga menyoroti peran media sosial yang membuat wisatawan berbondong-bondong ke tempat yang sama. Ketika sebuah lokasi viral, semakin banyak orang datang demi foto atau pengalaman serupa.
"Datanglah ke Barcelona untuk menonton konser, melihat pameran atau menikmati restoran yang menarik, lalu pikirkan sisanya. Datanglah untuk sesuatu yang hanya terjadi sekali seumur hidup, kemudian rencanakan kunjungan ke bangunan karya Gaudi atau bangunan bergaya Gotik," ujar Hernandez.
Pendekatan baru Barcelona bukan soal mengejar jumlah wisatawan sebanyak mungkin. Dewan pariwisata kota menyatakan ingin menarik wisatawan yang sesuai karakter Barcelona, yakni mengutamakan budaya, kualitas, rasa hormat, dan keaslian.
Karena itu, platform This is Barcelona tidak dirancang untuk memikat wisatawan yang mencari pengalaman wisata massal atau berkualitas rendah. Strategi ini diharapkan membuat manfaat pariwisata tersebar lebih luas, sekaligus menjaga kehidupan warga lokal dari lonjakan kunjungan.