Pemkot Denpasar Normalisasi 40 Titik Sungai dan Drainase, Target Rampung Akhir Oktober 2026

Penulis: Agus Hermawan  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 13:31:32 WIB
Pekerja mengeruk sedimen sungai dalam normalisasi aliran sungai dan drainase di Denpasar.

Pemerintah Kota Denpasar menormalisasi aliran sungai dan drainase di 40 titik untuk mengantisipasi banjir musim hujan, dengan pekerjaan dikoordinasikan Dinas PUPR setempat. Wali Kota I Gusti Ngurah Jaya Negara menyebut pengerjaan sudah berjalan sekitar satu setengah bulan akibat tingginya sedimentasi sungai. Pemkot menargetkan seluruh pekerjaan rampung pada akhir Oktober 2026.

DENPASAR — Normalisasi menyasar sejumlah aliran sungai utama, di antaranya Tukad Loloan, Tukad Mati, Tukad Rangda, dan Tukad Ayung. Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara meninjau langsung pekerjaan di Tukad Loloan, Sanur Kauh, Sabtu.

Pengerjaan di Tukad Loloan menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian karena endapan sedimen dinilai cukup tebal. Pemkot menyebut kondisi itu sebagai alasan utama normalisasi dipercepat sebelum puncak musim hujan.

Sedimentasi Tebal Jadi Alasan Pengerjaan Dipercepat

"Makanya kita sudah kerjakan sejak satu setengah bulan lalu. Mudah-mudahan bisa mencegah banjir," kata Jaya Negara.

Selain mengerahkan personel Dinas PUPR, Pemkot Denpasar menggandeng Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk penanganan sedimentasi. Di Tukad Mati, BWS menurunkan dua unit alat berat jenis wheel loader guna mempercepat pengerukan.

"Kita targetkan akhir Oktober bisa selesai dikerjakan," ujar Jaya Negara.

Dua Strategi Pengendalian Banjir: Bangun Sistem dan Operasi Pemeliharaan

Kepala Dinas PUPR Kota Denpasar I Gede Cipta Sudewa Atmaja menjelaskan pengendalian banjir dijalankan lewat dua jalur. Pertama, pembangunan sistem drainase baru. Kedua, operasi pemeliharaan yang mencakup pengerukan sedimen dan normalisasi sungai.

Pembangunan sistem drainase pada 2026 dilaksanakan di 11 titik. Lokasinya tersebar mulai dari Jalan Kerta Raharja Sidakarya, Jalan Gunung Salak, Jalan Gunung Catur, kawasan Pantai Duyung Sanur, hingga sekitar SD 10 Sesetan.

Titik lain meliputi Jalan Tukad Batanghari, Jalan Pulau Adi Pedungan, Jalan Kebo Ireng Padangsambian Kaja, Gang Klampit Jalan Gunung Batur, Jalan Pura Demak III, dan Jalan Suradipa.

Sementara operasi pemeliharaan drainase yang mencakup pengerukan dan normalisasi sungai berlangsung di 40 titik yang tersebar di seluruh Kota Denpasar.

Lima Sistem Aliran Sungai dengan Strategi Berbeda

Cipta Sudewa memaparkan pengelolaan drainase Denpasar mengacu pada lima sistem berdasarkan wilayah aliran sungai. Sistem pertama berada di Tukad Badung, sistem kedua di Tukad Ayung, dan sistem ketiga di Tukad Mati.

Sistem keempat mencakup kawasan Renon, Panjer, Sanur, Sidakarya, dan sekitarnya. Adapun sistem kelima berada di Pemogan.

Setiap sistem punya karakteristik berbeda, sehingga strategi penanganannya juga tidak seragam. Pada sistem keempat, misalnya, pemeliharaan difokuskan pada sungai berukuran sedang melalui operasi rutin, termasuk pengerukan sedimentasi.

"Masing-masing sistem itu ada strategi tersendiri di dalam pengendalian pengelolaan untuk mengantisipasi banjir," kata Cipta Sudewa.

Jadwal Jadi Kunci Antisipasi Musim Hujan

Pemkot Denpasar menargetkan seluruh normalisasi sungai dan drainase selesai sesuai jadwal. Langkah ini disiapkan untuk mengantisipasi kenaikan debit air saat musim hujan.

Warga di kawasan rawan genangan, terutama di bantaran Tukad Badung, Tukad Mati, dan wilayah Sanur, menjadi pihak yang paling berkepentingan dengan rampungnya pekerjaan tersebut.

Reporter: Agus Hermawan
Sumber: bali.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top