Inflasi Bali September 2026 Melandai ke 0,32 Persen, Cabai hingga Beras Masih Jadi Pemicu

Penulis: Zulfikar Ahmad  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 11:16:31 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, memaparkan perkembangan inflasi Bali dalam rapat koordinasi TPID.

DENPASAR — Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menyebut inflasi bulanan dipicu kenaikan biaya produksi, terutama harga pakan yang mendorong naiknya harga ayam ras di tingkat konsumen. Kemarau panjang akibat El Niño serta serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) turut menekan pasokan cabai dan beras.

"Meski ada tekanan dari sisi produksi, capaian inflasi Bali tetap terkendali berkat sinergi pengendalian yang dilakukan bersama TPID se-Bali," ungkap Achris.

Badung Catat Inflasi Bulanan Tertinggi, Tabanan Paling Tinggi Secara Tahunan

Seluruh kabupaten dan kota yang memiliki Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mencatat inflasi bulanan pada September 2026. Kabupaten Badung menempati posisi tertinggi dengan 0,55 persen (mtm), disusul Tabanan 0,46 persen (mtm), Kota Denpasar 0,21 persen (mtm), dan Singaraja 0,19 persen (mtm).

Untuk inflasi tahunan, Tabanan justru memimpin dengan 4,54 persen (yoy). Berikutnya Badung 3,95 persen (yoy), Singaraja 3,87 persen (yoy), dan Kota Denpasar 3,42 persen (yoy).

Daging Ayam hingga Biaya Kuliah Dorong Kenaikan Harga

Dari sisi komoditas, inflasi bulanan bersumber dari kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, air kemasan, biaya akademik atau perguruan tinggi, jeruk, bahan bakar rumah tangga, dan beras.

Sejumlah komoditas lain menahan laju inflasi. Penurunan harga terjadi pada angkutan udara, canang sari, cabai merah, bawang putih, sawi hijau, ketimun, emas perhiasan, bawang merah, terong, dan kangkung.

Strategi 4K Jadi Andalan TPID Se-Bali

Bank Indonesia Provinsi Bali mendukung langkah strategis TPID melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar. TPID se-Bali berfokus pada strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Implementasinya mencakup Rakor Inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga berkala, fasilitasi distribusi pangan, optimalisasi kerja sama antar daerah melalui Perumda Pangan, bantuan sarana prasarana kepada kelompok tani, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.

Risiko El Niño hingga Distribusi Pangan Antardaerah

Achris menyoroti sejumlah risiko yang perlu dicermati ke depan. Berlanjutnya fenomena El Niño, mundurnya awal musim hujan, dan potensi gangguan distribusi pangan antardaerah masuk dalam daftar pantauan.

"Ke depan, risiko inflasi yang perlu dicermati antara lain berlanjutnya fenomena El Niño, mundurnya awal musim hujan, serta potensi gangguan distribusi pangan antardaerah. Namun dengan sinergi yang kuat, kami optimistis inflasi Bali tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional 2,5 persen plus minus 1 persen," jelasnya.

Dengan dukungan sinergi Bank Indonesia dan pemerintah daerah, inflasi Bali pada akhir 2026 diprakirakan tetap terkendali sehingga mampu menjaga stabilitas perekonomian dan daya beli masyarakat.

Reporter: Zulfikar Ahmad
Sumber: kabarnusa.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top