BALI — Raditya Dika mencapai kebebasan finansial di usia kepala tiga dengan menerapkan aturan 4% dalam mengelola dana investasinya. Sementara Luna Maya memilih diversifikasi ke reksa dana, saham, obligasi, emas, hingga startup pengelolaan sampah. Di sisi lain, Lutfi Agizal pernah merugi miliaran rupiah di kripto.
Raditya Dika mengaku sudah mengenal konsep 4% rule sejak masih duduk di bangku kuliah. Ketika mulai memperoleh penghasilan dari menulis buku hingga menyutradarai film, pria yang akrab disapa Radit itu tidak hanya menggunakan uangnya untuk kebutuhan konsumtif.
Sebagian pendapatan disisihkan untuk investasi jangka panjang. Bonus dari film yang ditanganinya pun dialihkan ke dana pensiun dan instrumen investasi seperti saham.
Menurut Radit, langkah pertama mencapai kebebasan finansial bukan memilih instrumen investasi. Seseorang perlu menghitung berapa besar pengeluaran setiap bulan dan tahun untuk mengetahui jumlah dana yang dibutuhkan ketika tidak lagi aktif bekerja.
"Banyak orang enggak tahu sebulan mereka keluar uang berapa. Kalau enggak tahu, gimana bisa ngitung dana pensiun?" kata Radit dalam tayangan YouTube Agatha Chelsea bertajuk Raditya Dika: Pelit atau Minimalis? Gen Z Susah Financial Freedom, dikutip Jumat (2/10).
Radit menilai masih banyak anak muda yang keliru memahami fungsi investasi. Investasi bukan jalan utama untuk menjadi kaya, melainkan alat mencapai tujuan keuangan. Pekerjaan dan kemampuan menghasilkan pendapatan tetap menjadi fondasi utama.
Aktris Luna Maya tidak menempatkan kekayaannya pada satu instrumen saja. Kepada Katadata, Luna mengungkapkan memiliki sederet investasi mulai dari reksa dana, saham, obligasi, hingga emas.
Di luar instrumen pasar keuangan, Luna juga berinvestasi hijau di sektor startup pengelolaan sampah. Aktris yang dikenal lewat peran Suzanna dalam film Suzzanna: Malam Jumat Kliwon itu lebih senang menyebut aktivitas investasinya sebagai "menabung".
Nama Lo Kheng Hong dikenal sebagai investor kawakan yang konsisten mengoleksi saham. Pria yang mendapat julukan Warren Buffett-nya Indonesia itu telah lama menjadi rujukan bagi investor ritel Tanah Air.
Konsistensi Lo dalam memegang saham jangka panjang menjadi pembeda dari banyak investor yang tergoda trading jangka pendek. Strategi itu membangun reputasinya di pasar modal Indonesia.
Cerita berbeda datang dari pelakon FTV Lutfi Agizal. Ia sempat mengalami kerugian miliaran rupiah saat berinvestasi di aset kripto.
Kasus Lutfi menjadi pengingat bahwa instrumen dengan potensi imbal hasil tinggi juga membawa risiko besar. Fluktuasi harga kripto yang tajam bisa menggerus modal dalam waktu singkat.
Setiap figur publik memiliki pendekatan berbeda sesuai profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing. Radit menekankan pentingnya memahami pengeluaran sebelum memilih instrumen. Luna memilih diversifikasi lintas aset. Lo Kheng Hong setia pada saham jangka panjang.
Investasi bukan hanya milik konglomerat atau pengusaha. Siapa pun dapat berinvestasi dengan menyesuaikan instrumen, profil risiko, dan tujuan keuangan. Bagi sebagian orang, investasi menjadi cara menjaga nilai aset dari gerusan inflasi sekaligus mempersiapkan dana pensiun.