DENPASAR — Forum daring yang digelar melalui platform Zoom itu menjadi ruang perkenalan sekaligus konsolidasi awal Lewa Karma setelah resmi dilantik sebagai Kabid Bimas Islam Kanwil Kemenag Provinsi Bali. Diskusi dipandu fungsional Tim Penais, Alfian Wiranata, dan diawali pengantar dari Katim Juhar. Sesi diskusi serta bedah pengalaman dipandu Ridwan dengan menghadirkan narasumber dari unsur penyuluh yang berbagi praktik baik di lapangan.
Lewa menilai penyuluh agama menempati posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat. Perubahan kebutuhan umat menuntut mereka lebih adaptif, tidak cukup hanya menguasai materi keagamaan.
Menurut Lewa, penyuluh perlu menguasai kemampuan membangun komunikasi, membaca persoalan sosial, memanfaatkan media digital, memperluas jejaring, serta menghubungkan masyarakat dengan program pemerintah. Empat keterampilan itu disebutnya sebagai bekal wajib agar layanan keagamaan tidak berhenti di seremonial.
"Terima kasih atas kinerja dan berbagai prestasi yang telah ditorehkan penyuluh agama Islam di Bali. Saya mohon dukungan semua penyuluh untuk bersama-sama meningkatkan kualitas layanan, sekaligus menyesuaikan pelaksanaan tugas dengan regulasi yang berlaku," pesan Lewa dalam arahannya.
Ia juga meminta penyuluh tidak bekerja sendiri. Sinergi perlu dibangun dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, hingga komunitas.
"Penyuluh harus banyak berkolaborasi. Jangan bekerja sendiri. Bangun sinergi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, komunitas, dan berbagai sektor lainnya. Layanan Kementerian Agama harus memberi dampak, meninggalkan kesan positif, dan manfaat praktis bagi masyarakat," tegas Lewa.
Arah kebijakan yang disampaikan Lewa selaras dengan Asta Protas Kementerian Agama Berdampak untuk periode 2025–2029. Ada delapan agenda prioritas yang menjadi acuan kerja penyuluh di daerah:
Lewa berharap keluaran program tidak berhenti pada urusan administratif. Penyuluh diminta menghadirkan solusi nyata bagi keluarga, remaja, kelompok masyarakat, hingga kelompok rentan di Bali yang kental dengan nilai kebersamaan atau menyama braya.
Pertemuan daring itu juga menyoroti aspek dokumentasi dan publikasi kegiatan penyuluhan. Jajaran Bimas Islam menekankan materi yang diproduksi harus selaras dengan Graphic Standard Manual (GSM) Kementerian Agama 2025.
Keseragaman visual dinilai penting sebagai bagian identitas kelembagaan agar mudah dikenali dan tertib. Meski begitu, keseragaman desain tidak boleh mengalahkan substansi. Materi yang diproduksi harus tetap membawa pesan moderat, sejuk, kontekstual, dan dapat dipertanggungjawabkan di ruang digital.
Penguatan kompetensi, pemanfaatan teknologi, dan perluasan jejaring lintas sektor menjadi tiga pijakan yang diharapkan mengubah peran penyuluh di Bali. Contohnya kolaborasi dengan sektor kesehatan untuk penanganan stunting atau lembaga ekonomi untuk pemberdayaan umat. Lewa menyebut penyuluh mesti menjadi aktor utama yang menghadirkan pelayanan cepat, tepat, ramah, dan berdampak nyata bagi masyarakat.