BALI — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (24/9/2026) di level 6.298,6, turun 1,2% dari sesi sebelumnya. Pelemahan dipicu tekanan pada saham barang baku, perindustrian, dan properti yang masing-masing tertekan hingga 2,17%. Nilai transaksi harian tercatat Rp11,22 triliun dengan volume 29,31 miliar saham.
Bursa saham domestik kembali ditutup di zona merah. Sepanjang sesi Kamis (24/9/2026), IHSG bergerak dalam rentang 6.287,45 hingga 6.368,57, dengan posisi penutupan nyaris menyentuh level terendah harian. Tekanan jual yang mendominasi perdagangan membuat indeks gagal mempertahankan level 6.300.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi hari itu mencapai Rp11,22 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat 1,65 juta kali, sementara volume saham yang berpindah tangan mencapai 29,31 miliar lembar.
Tiga sektor menjadi motor utama penurunan indeks. Saham barang baku tertekan paling dalam dengan koreksi 2,17%, disusul sektor perindustrian yang melemah 2,09%, dan sektor properti yang turun 1,66%.
Tekanan pada sektor barang baku sejalan dengan pergerakan harga komoditas global yang masih volatil. Sementara sektor properti dan perindustrian terimbas sentimen perlambatan permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih.
Secara keseluruhan, mayoritas saham di bursa ditutup di zona merah. Sebanyak 462 saham melemah, sementara 188 saham menguat, dan 144 saham stagnan atau tidak bergerak dari posisi sebelumnya.
Dominasi saham melemah hampir tiga kali lipat jumlah saham menguat mengindikasikan tekanan jual yang merata. Investor cenderung memilih keluar dari posisi berisiko di tengah ketidakpastian arah pasar jangka pendek.
Level tertinggi intraday sempat tersentuh di 6.368,57 pada sesi pagi hingga siang hari. Namun, tekanan jual yang berlanjut sepanjang sesi membuat indeks perlahan tergerus hingga menyentuh titik terendah 6.287,45 sebelum akhirnya ditutup di 6.298,6.
Pergerakan ini mencerminkan keraguan pelaku pasar terhadap keberlanjutan penguatan indeks dalam beberapa sesi ke depan. Volume perdagangan yang didominasi tren penjualan memperkuat gambaran bahwa tekanan masih membayangi bursa domestik.
Sejumlah sekuritas merekomendasikan strategi wait and see bagi investor yang belum memiliki posisi. Bagi yang sudah memegang saham, disarankan mencermati level support terdekat di kisaran 6.287 untuk mengukur potensi rebound teknis.
Pemilihan saham perlu difokuskan pada emiten dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi, terutama di sektor yang tidak terdampak langsung pelemahan komoditas. Diversifikasi portofolio menjadi kunci di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.