BALI — Amazon resmi memblokir AI agent Meta Muse dari berbelanja di situsnya, dengan alasan risiko keamanan dan privasi pelanggan. Pengguna Muse yang mencoba mengakses Amazon kini mendapat peringatan bahwa akses oleh agen AI tak sah melanggar Ketentuan Penggunaan. Langkah ini menandai benturan kepentingan antara raksasa e-commerce dan pengembang AI.
Amazon mengaku awalnya meminta Meta secara sukarela mengecualikan situsnya dari jangkauan Muse. Juru bicara Amazon menyatakan, "We think it's fairly straightforward that third-party applications that offer to make purchases on behalf of customers from other businesses should operate openly and respect service provider decisions about whether or not to participate."
Amazon menilai Muse tidak memperkenalkan dirinya saat menjelajahi situs mereka. Perusahaan juga menuding Muse membawa risiko privasi dan keamanan, termasuk akses serta penyimpanan informasi pelanggan.
Meta membantah tuduhan itu. Dalam pengumuman peluncuran Muse, perusahaan menegaskan, "Muse has no visibility into people's passwords or payment methods. Any credentials a person shares go into secure storage, so Muse can use them without seeing them, including passwords a person types into the browser themselves."
Meta meluncurkan Muse awal bulan ini sebagai "secure, private personal AI agent that proactively helps with people's goals and suggests ideas." Agen ini bisa mengisi formulir, mengirim email, dan berbelanja memakai kartu sekali pakai yang dihasilkan Link by Stripe.
Kemampuan berbelanja otomatis inilah yang memicu gesekan. Amazon ingin transaksi di platformnya tetap berada dalam kendali mereka, sementara Meta mendorong agen AI yang bertindak atas nama pengguna di berbagai layanan.
Bagi pengguna Muse, fitur belanja di Amazon kini tidak berfungsi. Mereka harus menyelesaikan transaksi secara manual lewat aplikasi atau browser Amazon. Belum ada indikasi kapan blokir ini bisa dicabut.
Engadget telah menghubungi Amazon dan Meta untuk meminta komentar terkait perselisihan ini. Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi tambahan dari kedua perusahaan.
Kasus Amazon vs Meta Muse mencerminkan ketegangan yang lebih luas. Agen AI yang bisa bertindak atas nama pengguna mengancam model bisnis platform yang mengandalkan kontrol atas pengalaman belanja dan data pelanggan.
Amazon bukan satu-satunya yang waspada. Platform lain kemungkinan akan menempuh langkah serupa jika agen AI dianggap mengakses layanan tanpa izin resmi. Regulasi soal batas akses agen AI masih abu-abu di banyak yurisdiksi, termasuk Indonesia.
Untuk sementara, pengguna yang ingin memanfaatkan Muse sebaiknya menghindari transaksi di platform yang belum menjalin kerja sama resmi dengan Meta. Pantau terus perkembangan kebijakan Amazon dan Meta soal akses agen AI.