BRI Ungkap Tiga Syarat UMKM Tembus Ekspor: Modal hingga Akses Pembeli

Penulis: Agus Hermawan  •  Selasa, 08 September 2026 | 08:47:31 WIB
Direktur Utama BRI Alexander berbicara dalam Indonesia Economic Forum 2026 di Bali, Senin (7/9/2025).

BALI — Pernyataan itu disampaikan Alexander dalam Indonesia Economic Forum 2026: The Future of Indonesia's Exports, Senin (7/9). Menurutnya, tanpa ketiga faktor tersebut, produk UMKM akan kesulitan bersaing di rantai pasok internasional yang menuntut standar kualitas dan transparansi tinggi.

Kapasitas Produksi dan Kualitas Menjadi Gerbang Utama

Alexander menegaskan kapasitas usaha selalu berkaitan erat dengan kemampuan pelaku UMKM mendapatkan modal. Perbankan, kata dia, berperan sebagai katalis untuk membantu peningkatan skala produksi sekaligus menjaga konsistensi kualitas barang.

"Kapasitas usaha pasti ada kaitannya dengan kemampuan dia mendapatkan modal. Dan di sinilah kita berfungsi," ujarnya.

Semakin baik faktor produksi yang dimiliki, semakin besar peluang produk diterima pasar internasional. BRI mencatat hampir 65 persen pembiayaan UMKM tahunan di Indonesia berasal dari perseroan, menunjukkan besarnya ketergantungan sektor ini pada permodalan perbankan.

Transparansi Keuangan Jadi Tuntutan Pembeli Luar Negeri

Faktor kedua yang tidak kalah krusial adalah literasi keuangan. Alexander menjelaskan, ekspor bukan sekadar aktivitas menjual barang. Pembeli di luar negeri kini menuntut kejelasan arus kas, sumber dana, dan proses produksi sebelum menjalin kerja sama jangka panjang.

"Ekspor itu bukan hanya menjual barang zaman sekarang. Pihak pembeli di luar negeri juga menuntut adanya transparansi keuangan," jelasnya.

Untuk menjawab kebutuhan itu, BRI tidak berhenti pada penyaluran kredit. Perseroan mengoperasikan program pendampingan seperti Klasterku yang mencakup 44 ribu klaster, Desa BRILiaN di 5.700 desa, serta LinkUMKM yang menjangkau 17,3 juta pelaku usaha.

Akses Pasar: Jembatan Menuju Pembeli Global

Modal dan kapasitas yang mumpuni tidak berarti apa-apa tanpa akses ke calon pembeli. Alexander menilai banyak UMKM gagal ekspor bukan karena produknya buruk, melainkan tidak tahu harus menjual ke siapa dan bagaimana caranya.

"Punya modal yang cukup, kapasitasnya baik, secara keuangan juga tertata baik, tapi kalau tidak punya akses ke pangsa-pangsa luar negeri juga tidak bisa ekspor," tuturnya.

BRI menjembatani kesenjangan ini lewat UMKM Expo yang mempertemukan pelaku usaha dengan mitra bisnis potensial. Nilai transaksi US$90,6 juta pada edisi terakhir disebut Alexander terus meningkat dari tahun ke tahun.

One BRI Solution: Menghubungkan UMKM dengan Ekosistem Korporasi

Strategi lain yang diandalkan adalah konsep One BRI Solution. Melalui pendekatan ini, nasabah UMKM dicocokkan dengan ekosistem bisnis internal perseroan, termasuk nasabah korporasi dan komersial yang memiliki jaringan distribusi hingga level ekspor.

"Ketika kita punya nasabah UMKM, kita akan coba mencocokkan dengan ekosistem prinsip yang ada. Kita punya nasabah korporasi, komersial, dan di dalam situ kita punya akses yang bisa kita berikan, termasuk sampai dengan ke level ekspor," pungkas Alexander.

Reporter: Agus Hermawan
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top