BALI — Laporan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026 mencatat rata-rata upah buruh hanya berada di angka Rp3,39 juta per bulan. Angka ini hanya naik tipis 3,08 persen dibandingkan periode Februari 2026.
Sementara di sisi lain, data SP2KP Kementerian Perdagangan menunjukkan harga beras premium terus merangkak dari Rp15.546 per kg menjadi Rp15.621 per kg dalam sebulan terakhir. Komoditas daging ayam ras bahkan melonjak lebih signifikan, dari Rp38.408 per kg menjadi Rp40.978 per kg.
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho menyarankan masyarakat segera memangkas pengeluaran yang bersifat kesenangan atau kemewahan, terutama yang tidak mendesak. Menurut dia, pos ini paling mudah dikorbankan tanpa mengganggu kebutuhan dasar rumah tangga.
"Contohnya adalah jajan makan dan minum kekinian, travelling, atau membeli gadget baru hanya karena FOMO ataupun mengikuti tren," ujar Andy kepada CNNIndonesia.com.
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia, Dandy, menambahkan kebiasaan belanja impulsif akibat tergiur promo sesaat juga perlu ditahan. Ia mencontohkan penghematan bisa dimulai dari biaya layanan berlangganan yang jarang dipakai, mengurangi frekuensi nongkrong dari sepekan sekali menjadi dua pekan atau sebulan sekali, hingga menunda rencana liburan.
Untuk mobilitas harian, Dandy menyarankan evaluasi pilihan transportasi dengan mencari opsi lebih terjangkau seperti transportasi umum bila memungkinkan. Opsi memasak sendiri di rumah juga bisa diambil agar pengeluaran makan lebih hemat.
"Kalau masih ada cicilan bisa dipertimbangkan untuk ajukan restrukturisasi agar tidak terlalu berat," ujarnya.
Ketika penghasilan terasa pas-pasan, Andy merekomendasikan pembagian proporsi pengeluaran berdasarkan skala prioritas. Prioritas pertama harus dialokasikan untuk pengeluaran wajib seperti biaya sekolah anak, listrik, dan cicilan utang seperti KPR, kendaraan bermotor, atau utang konsumtif lainnya.
Prioritas kedua untuk pengeluaran penting yang jumlahnya masih bisa diatur seperti uang makan sehari-hari dan ongkos transportasi kerja. Adapun prioritas ketiga adalah pengeluaran yang bersifat kesenangan dan kemewahan.
"Contoh jajan makanan dan minuman, traveling, nonton bioskop, langganan berbagai aplikasi, dan lain-lain," ujar Andy.
Dandy memberikan cara berbeda dengan panduan ideal persentase seperti 50 persen kebutuhan rutin, 30 persen keinginan, dan 20 persen tabungan, atau rasio 40-30-20-10. Namun, ia menegaskan persentase tersebut bersifat fleksibel dan tidak harus kaku mengikuti angka yang sama.
"Semua bagian bisa saja dihemat, tinggal dipertimbangkan dengan situasi, kondisi, serta prioritas. Namun, saya pribadi akan menghemat lifestyle saya," ujar Dandy.
Terkait alokasi investasi di tengah kondisi keuangan yang mepet, Andy menilai investasi idealnya baru dilakukan jika masih ada sisa dana setelah seluruh kebutuhan pokok terpenuhi. Bila kebutuhan yang penting masih ada yang belum dapat terpenuhi, sebaiknya ditunda dulu.
"Karena bila kita berinvestasi, uang tersebut akan 'diparkir' selama beberapa waktu, sementara kita harus bisa bertahan," ujar Andy.
Dandy sepakat keputusan investasi bisa ditunda jika ruang kondisi keuangan sudah terlalu ketat. Ia menekankan agar dana darurat terisi lebih dulu sebelum memikirkan instrumen investasi jangka panjang.
Kendati demikian, Dandy menilai investasi sebaiknya tetap dilanjutkan jika masih memungkinkan dengan cara menurunkan porsinya. Menurutnya, konsistensi berinvestasi tetap penting untuk mencapai kebebasan finansial dalam jangka panjang.
"Sebisa mungkin selama masih mampu, tetap lakukan investasi karena untuk jangka panjang mencapai financial freedom," ujar Dandy.