Nilai tukar rupiah dibuka menguat 28 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.695 per dolar AS pada perdagangan Rabu, melanjutkan tren positif di tengah meredanya ketegangan geopolitik. Penguatan ini didorong oleh anjloknya harga minyak mentah dunia setelah muncul laporan rencana pembentukan koridor maritim gabungan antara Iran dan Oman di Selat Hormuz.
JAKARTA — Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pasar merespons positif kabar diplomatik yang beredar di Timur Tengah. Sentimen ini berhasil menekan harga komoditas energi dan secara langsung mengangkat nilai tukar Garuda di pasar keuangan domestik.
Laporan dari Anadolu menunjukkan harga minyak mentah jenis Brent terkoreksi ke kisaran 86,2 dolar AS per barel. Angka ini melanjutkan penurunan signifikan sebesar 2,4 persen yang terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga tercatat ambles lebih dalam hingga 5,5 persen ke level 80,40 dolar AS per barel.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS seiring penurunan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah, menyusul laporan bahwa Iran dan Oman membahas pembentukan ‘koridor maritim gabungan sementara’ di Selat Hormuz,” kata Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Rencana koridor maritim tersebut dinilai pelaku pasar sebagai langkah konkret untuk meredakan eskalasi konflik yang selama ini menjadi premi risiko bagi harga energi global.
Melemahnya harga minyak membuat permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS ikut berkurang. Kondisi ini semakin mendukung pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang cenderung diuntungkan oleh kondisi risiko global yang membaik.
Dengan dinamika tersebut, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan diplomasi di kawasan Teluk sebagai penentu arah pergerakan mata uang pada sesi berikutnya.