DENPASAR — Pelemahan rupiah yang diproyeksikan berlanjut hari ini membuat para pelaku usaha di Bali, khususnya di sektor perhotelan dan UMKM, mulai menghitung ulang biaya operasional. Sebab, fluktuasi nilai tukar berdampak langsung pada harga barang impor, mulai dari perlengkapan hotel hingga bahan baku makanan dan minuman.
Analis mencatat, penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama. Ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama terus mendorong permintaan terhadap mata uang Paman Sam. Akibatnya, hampir semua mata uang Asia, termasuk rupiah, berada dalam posisi tertekan.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja. Hal ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Sentimen ini membuat investor asing cenderung menarik modal dari pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Bagi Bali, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di papan bursa. Sektor pariwisata yang sangat bergantung pada produk impor, seperti alat kebersihan, elektronik, hingga bahan makanan tertentu, akan merasakan kenaikan biaya. “Kalau dolar naik terus, kami harus pintar-pintar mengatur margin. Kalau tidak, harga paket wisata bisa naik,” ujar seorang pengelola hotel di kawasan Kuta, pekan lalu.
UMKM yang memproduksi oleh-oleh khas Bali juga tidak luput dari dampak. Banyak dari mereka yang masih menggunakan bahan baku impor untuk kemasan atau beberapa jenis bahan pangan. Kenaikan harga bahan baku otomatis menekan keuntungan mereka jika tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual.
Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi ganda di pasar spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) untuk menjaga stabilitas rupiah. Pemerintah daerah Bali juga diminta mengantisipasi dampak inflasi dari sisi impor dengan memperkuat penggunaan produk lokal di sektor pariwisata.
Meski demikian, pengamat ekonomi memperkirakan volatilitas rupiah masih akan terjadi dalam jangka pendek. Para pelaku usaha di Bali disarankan untuk melakukan lindung nilai (hedging) terhadap transaksi dalam dolar agar tidak dirugikan oleh fluktuasi kurs yang tajam.
Pasar masih akan menantikan data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini. Jika angka inflasi lebih tinggi dari perkiraan, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar. Sebaliknya, jika ada sinyal perlambatan ekonomi AS, dolar bisa melemah dan memberi ruang bagi rupiah untuk menguat kembali.
Untuk Bali, kebijakan penguatan rantai pasok lokal menjadi kunci agar ketergantungan pada impor bisa ditekan. Dengan begitu, gejolak nilai tukar tidak langsung memukul sektor riil yang menjadi sumber penghidupan jutaan warga di Pulau Dewata.