Transisi Energi Bersih di Bali Mendesak, Anggota Komisi XII DPR: Cadangan Listrik Tersisa 1,5 Persen

Penulis: Darmawan Putra  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 16:02:31 WIB
Anggota Komisi XII DPR RI Syarif Fasha mendorong percepatan transisi energi bersih di Bali.

DENPASAR — Anggota Komisi XII DPR RI Syarif Fasha mendesak percepatan transisi energi di Bali. Menurutnya, membangun pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di destinasi wisata internasional ini sudah tidak relevan lagi.

“Kita ini memiliki sumber pasokan yang relatif dekat dan cadangan Sumber Daya Alam (SDA) yang memadai, untuk itu kami mendorong agar adanya percepatan tambahan sumber energi EBT di Bali,” ujar Fasha usai mengikuti Kunjungan Kerja Reses Komisi XII DPR RI di Kuta, Bali, Rabu (22/7/2026).

Cadangan Listri Hanya 1,5 Persen, Pertumbuhan Konsumsi Tertinggi Nasional

Fasha mengungkapkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Margin cadangan daya (reserve margin) sistem kelistrikan Bali saat ini hanya sekitar 1,5 persen. Angka itu sangat tipis untuk menjamin keandalan pasokan listrik.

Di sisi lain, pertumbuhan kebutuhan listrik di Bali menjadi yang tertinggi secara nasional, mencapai 7,5 hingga 7,6 persen per tahun. Kondisi ini, kata Fasha, harus segera diantisipasi agar tidak mengganggu pasokan listrik ke rumah tangga, hotel, dan pusat bisnis di Pulau Dewata.

Gas Alam Jadi Opsi Jangka Menengah, EBT Jadi Tujuan Akhir

Politisi Fraksi Partai NasDem itu menilai Bali memiliki peluang besar mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), seperti tenaga surya dan angin. Namun, untuk menjaga keandalan pasokan dalam jangka menengah, gas alam dinilai sebagai pilihan paling realistis saat ini.

Langkah ini dinilai sejalan dengan citra Bali sebagai daerah yang mengedepankan pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan. “Pemerintah tidak dapat terus bergantung pada energi fosil,” tegasnya.

Dorong Ekosistem Kendaraan Listrik untuk Tekan Subsidi BBM

Selain soal listrik, Fasha juga menyoroti perubahan pola konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Ia menilai selisih harga antara BBM subsidi dan non-subsidi yang tinggi telah mendorong masyarakat beralih menggunakan BBM bersubsidi, sehingga berpotensi meningkatkan beban subsidi negara.

Untuk itu, ia mendorong percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Menurutnya, kolaborasi antara PLN dan Pertamina bisa dilakukan dengan memanfaatkan jaringan SPBU yang sudah ada untuk memperluas pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

“Saya juga menekankan pentingnya kesiapan layanan purnajual kendaraan listrik. Ketersediaan suku cadang, jaringan bengkel, serta layanan perawatan menjadi faktor yang akan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk beralih menggunakan kendaraan listrik,” pungkas Fasha.

Reporter: Darmawan Putra
Sumber: diksimerdeka.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top