BANGLI — Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Bangli, I Wayan Agus Wirawan, mengonfirmasi bahwa letupan belerang terjadi di dasar danau dan bergeser. Fenomena ini dikenal sebagai upwelling, yaitu naiknya gas dan sedimen dari dasar danau ke permukaan.
"Kandungannya ada H2S, nitrat, nitrit yang menyebabkan pengikatan unsur oksigen di air sehingga kadar oksigen menurun," ujar Agus saat dihubungi, Rabu (23/7/2026).
Penurunan kadar oksigen secara drastis membuat ikan stres dan mati massal. Kematian terparah tercatat di wilayah Dusun Dukuh, dengan total 25 ton ikan nila yang sudah dilaporkan.
Agus menjelaskan, letupan belerang di Danau Batur hampir setiap tahun terjadi, terutama pada periode Juli hingga Agustus. "Walaupun tidak selalu setiap tahun," katanya.
Para pembudidaya ikan di kawasan ini sudah terbiasa dengan siklus tersebut. Mereka biasanya menghindari penebaran benih pada bulan-bulan rawan dan memanen lebih awal untuk mengurangi risiko.
"Teman-teman pembudidaya sudah sangat paham. Biasanya pada bulan-bulan seperti ini mereka menghindari penebaran benih dan memanen lebih awal," ujar Agus.
Meski kerugian mencapai ratusan juta rupiah, tidak semua ikan yang mati menjadi kerugian total. Agus menyebutkan, ikan yang baru mati kondisinya masih bagus dan belum busuk, sehingga masih bisa dimanfaatkan.
"Ikan yang mati itu langsung dikirim ke pabrik untuk diolah. Kondisinya masih bagus dan belum busuk, sehingga masih ada nilai ekonominya," kata Agus.
Proses pengolahan dilakukan segera setelah ikan diangkat dari danau, sehingga kualitasnya tetap terjaga. Langkah ini membantu meringankan beban peternak yang terdampak.
Fenomena upwelling di Danau Batur dipicu oleh letupan belerang yang mendorong gas dan sedimen dari dasar danau naik ke permukaan. Gas seperti H2S, nitrat, dan nitrit mengikat oksigen terlarut di air, menyebabkan kadar oksigen menurun drastis.
Kondisi ini mematikan bagi ikan budidaya yang membutuhkan oksigen tinggi. Peternak diimbau untuk terus memantau kondisi air dan segera memanen jika tanda-tanda upwelling mulai muncul.
Pemerintah daerah setempat terus berkoordinasi dengan peternak untuk meminimalkan dampak. Langkah antisipatif seperti pemantauan rutin dan edukasi pola musim tetap dilakukan setiap tahun.