DENPASAR — Rapat Koordinasi Pembangunan Wilayah Bali yang digelar di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Senin (20/7), menjadi ajang pemaparan data sekaligus kekhawatiran. Dari total 16,3 juta kunjungan, sebanyak 7,05 juta merupakan wisatawan mancanegara (wisman) dan sekitar 9,3 juta lainnya adalah wisatawan domestik.
Bali masih menjadi primadona pariwisata nasional. Kontribusinya mencapai 45,8 persen dari total kunjungan wisman ke Indonesia. Dengan rata-rata pengeluaran wisman sebesar 1.522 dolar AS per kunjungan, perputaran ekonomi di Pulau Dewata pada 2025 diperkirakan menembus Rp176 triliun—hampir separuh dari kontribusi pariwisata nasional.
Kinerja sektor ini mendorong pertumbuhan ekonomi Bali ke angka 5,82 persen. Tingkat kemiskinan menjadi yang terendah di Indonesia, yakni 3,42 persen, dan tingkat pengangguran hanya 1,45 persen. Pendapatan per kapita masyarakat juga terus meningkat.
Namun, Gubernur Wayan Koster mengingatkan bahwa di balik angka gemilang itu, ada risiko serius yang mengintai. Alih fungsi lahan, masalah sampah, gangguan ekosistem, kelangkaan air bersih, dan kemacetan parah menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda.
“Infrastruktur dan layanan publik kita belum sepenuhnya mampu mengimbangi peningkatan aktivitas. Kemacetan menjadi perhatian utama,” kata Wayan Koster dalam sambutannya. Ia menekankan bahwa jika kemacetan tidak segera ditangani, Bali berisiko kehilangan daya saing sebagai destinasi kelas dunia.
Pemerintah provinsi telah menyusun sejumlah langkah prioritas. Mulai dari pengelolaan sampah berbasis sumber di tingkat rumah tangga, penyediaan air bersih di wilayah rawan seperti Karangasem dan Jembrana, hingga ketahanan energi melalui pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas.
Untuk mengurai kepadatan di jalur darat—terutama saat musim puncak liburan atau hari besar keagamaan—pemerintah mendorong optimalisasi jalur logistik laut. Lintasan Ketapang–Gilimanuk hingga Karangasem disiapkan sebagai alternatif distribusi barang dan jasa.
Selain itu, sektor pertanian organik dan percepatan konektivitas jalan juga masuk dalam daftar prioritas pembangunan ke depan. Wayan Koster menutup arahannya dengan pesan tegas: pembangunan infrastruktur yang cepat dan tepat adalah kunci menjaga kualitas destinasi Bali di mata dunia, sekaligus menjamin kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.