Tragedi Banjir Molase Boston 1919: 21 Tewas, Pemerintah AS Perketat Regulasi Bangunan Industri

Penulis: Zulfikar Ahmad  •  Sabtu, 18 Juli 2026 | 17:45:32 WIB
Tangki penyimpanan molase setinggi 15 meter di Boston pecah pada 1919, menewaskan 21 orang akibat terjebak dan mati lemas dalam cairan pekat.

BALI — Pemerintah Kota Boston dan negara bagian Massachusetts memberlakukan aturan baru yang mewajibkan setiap cetak biru bangunan industri ditandatangani dan disegel oleh insinyur serta arsitek bersertifikat setelah bencana tersebut. Regulasi ini juga mengharuskan inspektur bangunan pemerintah melakukan pemeriksaan berkala secara rutin terhadap seluruh tangki penampung cairan industri. Aturan itu menjadi respons atas kegagalan struktural yang merenggut nyawa puluhan warga sipil yang sedang beraktivitas di area dermaga.

Tangki Baru yang Bocor dan Dicat Cokelat untuk Menyamarkan Rembesan

Tangki raksasa setinggi 50 kaki atau sekitar 15 meter itu dibangun oleh Purity Distilling Company pada 1915. Meski tergolong baru, tangki tersebut diketahui sering mengalami kebocoran pada sambungannya.

Pemilik perusahaan sengaja mengecat tangki dengan warna cokelat untuk menyamarkan rembesan cairan molase yang keluar dari celah-celah sambungan. Praktik ini, menurut catatan pemerintah kota Boston, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan warga dan otoritas setempat tidak menyadari tingkat kerusakan tangki sebelum akhirnya pecah.

Gelombang Sirup yang Menghancurkan: Kereta Terlepas, Bangunan Roboh

Peristiwa terjadi sekitar pukul 13.00 waktu setempat saat warga sedang beraktivitas di bawah sinar matahari. Banyak saksi mata awalnya mengira suara gemuruh berat berasal dari kereta api yang melintas.

Namun, tangki tersebut tiba-tiba pecah dan menumpahkan seluruh isinya. Gelombang molase bergerak dengan kecepatan 35 mil per jam atau setara 56,33 km/jam. Kekuatan hempasannya mampu mendorong kereta dari relnya, merobohkan gedung, dan menghancurkan berbagai bangunan di sekitarnya.

Korban Tewas Akibat Terjebak dan Mati Lewas dalam Cairan Pekat

Sebagian besar korban tewas merupakan pekerja dan pengemudi yang tengah beraktivitas di area dermaga. Mereka meninggal dunia akibat terjebak dan mati lemas atau sufokasi di dalam cairan molase yang sangat pekat dan lengket.

Proses evakuasi dan pembersihan pascakejadian berlangsung sangat sulit. Petugas harus menggunakan air laut untuk mengencerkan kekentalan cairan molase agar bisa dibersihkan dari jalanan dan bangunan yang hancur.

Warisan Regulasi: Cetak Biru Wajib Ditandatangani Insinyur

Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi sistem regulasi industri di Amerika Serikat. Aturan baru yang lahir dari peristiwa tersebut mewajibkan setiap insinyur dan arsitek bertanggung jawab penuh atas rancangan bangunan melalui tanda tangan dan segel resmi pada cetak biru.

Pemerintah setempat juga mewajibkan pemeriksaan berkala oleh inspektur bangunan pemerintah untuk memastikan keamanan tangki-tangki penampung cairan industri. Regulasi ini masih menjadi standar di berbagai negara bagian hingga saat ini.

Reporter: Zulfikar Ahmad
Sumber: news.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top