DENPASAR — Langkah kaki Maria Londa di pasir Pantai Sanur, Denpasar, bukan sekadar jogging pagi. Atlet yang pernah menyumbang emas untuk Indonesia di Asian Games 2014 itu tengah mempersiapkan diri untuk Asian Games keempatnya, yang akan berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang, pada 2026.
“Persiapan sudah 80 persen. Tinggal sekarang fokus perbaikan teknik dan terus melatih mentalitas,” kata Maria saat ditemui ANTARA di sela latihan fisiknya, Kamis.
Ia berlatih enam hari dalam sepekan, dua kali sehari—pukul 08.00 pagi dan 16.00 sore—ditemani sang suami yang juga pelatihnya, Made Sukariata. Latihan difokuskan pada ketahanan, kekuatan kaki, dan keseimbangan tubuh.
Berbeda dengan edisi sebelumnya, Maria kini memutuskan fokus penuh pada nomor lompat jangkit. Ia menilai peluang mengejar sentimeter lebih terbuka di nomor ini dibanding lompat jauh yang pernah membawanya meraih emas di Incheon 2014.
“Saat ini, saya fokus ke lompat jangkit, karena memang mengejar sentimeter di lompat jangkit lebih memungkinkan dibanding lompat jauh,” imbuhnya.
Keyakinan Maria bukannya tanpa dasar. Terakhir, ia berhasil merebut medali emas nomor lompat jangkit di SEA Games 2025 Bangkok, Thailand. Namun, ia sadar persaingan di level Asia akan jauh lebih berat, terutama dengan munculnya atlet-atlet muda dari negara seperti Uzbekistan.
Bagi atlet kelahiran Denpasar yang akan genap 36 tahun pada Oktober 2026 ini, Asian Games mendatang adalah pertandingan terakhirnya di level nasional dan internasional. Aturan di Indonesia membatasi usia atlet cabang atletik maksimal 35 tahun.
“Itu akan menjadi pertandingan terakhir saya untuk skala nasional maupun internasional, karena di Indonesia saya sudah tidak boleh berlomba lagi kan, karena ada batasan usia di cabang atletik itu di usia 35 tahun,” ujarnya.
Meski usia menjadi batasan, Maria enggan menyerah begitu saja. Dengan pengalaman bertanding di tiga Asian Games sebelumnya—Incheon 2014, Jakarta-Palembang 2018, dan Hangzhou 2023—ia optimistis bisa menutup karier dengan medali di Jepang.