BALI — Empat tahun sudah SDN 6 Bhuana Giri sepi dari suara calon siswa baru. Bangunan masih berdiri, meja dan kursi tersusun rapi, tetapi tanpa riuh anak-anak. Hanya empat murid tersisa di sekolah yang dulu mungkin ramai.
Di saat yang sama, pemerintah menggencarkan pembangunan Sekolah Rakyat—sekolah gratis dan berkualitas untuk keluarga miskin dan miskin ekstrem. Dua kenyataan ini berjalan sendiri-sendiri, padahal bisa dipertemukan dalam satu solusi.
Gagasan ini bukan menghakimi kebijakan yang ada, melainkan menawarkan pendekatan lebih bijaksana. Mungkinkah sekolah-sekolah negeri yang kehilangan murid dipetakan secara objektif dan direvitalisasi menjadi Sekolah Rakyat? Lahan sudah tersedia, gedung telah berdiri, dan sebagian fasilitas masih layak pakai.
Pendekatan ini dikenal dalam perencanaan pembangunan sebagai adaptive reuse—menghidupkan kembali aset yang ada dengan fungsi yang lebih sesuai. Jika lokasinya strategis dan bangunannya masih memadai, sekolah bisa di-upgrade dengan fasilitas baru tanpa harus membangun dari awal.
Anggaran negara yang semula dialokasikan untuk pembangunan fisik pun bisa dialihkan ke hal yang lebih mendasar: peningkatan kompetensi guru, laboratorium modern, perpustakaan digital, asrama bila diperlukan, layanan kesehatan, makan bergizi, hingga penguatan pendidikan karakter.
Di era digital, hampir seluruh pengetahuan dunia bisa diakses lewat telepon genggam. Kecerdasan buatan (AI) bahkan menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Tantangan pendidikan hari ini bukan lagi soal transfer informasi, melainkan transformasi kesadaran.
AI tidak bisa menanamkan kebijaksanaan, empati, atau integritas. Semua itu hanya tumbuh melalui perjumpaan antarmanusia. Sekolah tetap memiliki peran tak tergantikan: menjadi ruang di mana seorang anak belajar menjadi manusia.
Seorang murid mungkin lupa rumus matematika atau tanggal sejarah. Tapi ia hampir tidak pernah lupa bagaimana gurunya memperlakukan dirinya. Sikap hormat, kejujuran, dan kepedulian jauh lebih membekas dibanding isi buku pelajaran.
Selama ini kita sering bicara soal pendidikan karakter bagi murid. Padahal ada pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah yang membentuk karakter para guru? Ki Hajar Dewantara telah menjawabnya lebih dari satu abad lalu lewat semboyan Ing ngarso sung tulodo—di depan, seorang pendidik harus memberi teladan.
Jika guru tidak memiliki kesadaran yang utuh, bagaimana ia bisa menularkan kesadaran itu kepada murid? Revitalisasi sekolah bukan hanya soal gedung dan anggaran, tetapi juga soal menyiapkan manusia yang akan mengisi ruang-ruang kelas itu—dengan hati, bukan sekadar materi ajar.